Dalam diskursus teologi Islam, relasi antara Khalik dan makhluk sering kali dipahami melalui dua poros utama, yaitu transendensi (tanzih) dan imanensi (tashbih/qurb). Di satu sisi, Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Tinggi dan tidak serupa dengan makhluk-Nya, namun di sisi lain, Dia sangat dekat dengan hamba-Nya melalui ilmu, pendengaran, pengawasan, dan rahmat-Nya. Salah satu teks wahyu yang paling representatif dalam menjembatani kedua dimensi ini adalah Surah Al-Baqarah ayat 186. Ayat ini tidak sekadar berbicara tentang anjuran berdoa, melainkan menyimpan formulasi teologis yang sangat dalam mengenai hakikat kedekatan Allah, tata cara interaksi spiritual hamba dengan Sang Pencipta, serta implikasi fiqih ibadah yang menyertainya. Melalui kajian ini, kita akan membedah secara integratif dimensi tafsir, hadis, aqidah, dan fiqih yang terkandung di dalamnya.

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]

Terjemahan: Dan apabila