Dalam diskursus keilmuan Islam, bangunan agama tegak di atas tiga pilar utama yang saling bertautan, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Jika Islam merepresentasikan manifestasi lahiriah melalui hukum-hukum Fiqih, dan Iman merupakan fondasi teologis dalam ranah Akidah, maka Ihsan adalah puncak pencapaian spiritual yang memberikan ruh pada setiap aktivitas penghambaan. Tanpa Ihsan, ibadah hanya akan menjadi rutinitas mekanis yang hampa dari makna transendental. Para ulama salaf menekankan bahwa Ihsan adalah maqam tertinggi di mana seorang hamba menyadari kehadiran Sang Khaliq secara absolut, baik dalam ruang publik maupun kesunyian. Analisis mendalam terhadap teks-teks wahyu menunjukkan bahwa Ihsan bukan sekadar etika, melainkan sebuah kondisi kesadaran ontologis yang mengubah cara pandang manusia terhadap realitas eksistensialnya.

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثِ جِبْرِيلَ الطَّوِيلِ حِينَ سَأَلَهُ عَنِ الْإِحْسَانِ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ، وَهَذَا الْقَدْرُ مِنَ الْحَدِيثِ هُوَ جَوْهَرُ الْمُرَاقَبَةِ وَأَصْلُ التَّصَفِّيَةِ فِي السُّلُوكِ إِلَى اللهِ تَعَالَى.

Dalam Artikel

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam potongan Hadits Jibril yang panjang ketika ditanya tentang Ihsan: Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Muslim). Syarah dari teks ini membagi Ihsan menjadi dua tingkatan utama. Tingkat pertama adalah Maqam al-Mushahadah, di mana seorang hamba beribadah dengan hati yang dipenuhi cahaya makrifat sehingga seolah-olah tabir antara dirinya dan Allah tersingkap. Ia tidak lagi melihat dunia sebagai entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya. Tingkat kedua adalah Maqam al-Muraqabah, yakni kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik, lintasan hati, dan bisikan jiwa. Jika seseorang gagal mencapai derajat seolah melihat Allah, maka ia wajib menghadirkan keyakinan bahwa Allah mustahil luput dari mengawasinya.

وَقَوْلُهُ تَعَالَى فِي سُورَةِ الْعَلَقِ: أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللهَ يَرَى. وَقَالَ فِي سُورَةِ الْحَدِيدِ: وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ. وَهَذِهِ الآيَاتُ تُؤَصِّلُ لِمَعْنَى الْمَعِيَّةِ الْعَامَّةِ وَالْخَاصَّةِ، فَالْمَعِيَّةُ الْعَامَّةُ هِيَ مَعِيَّةُ الْعِلْمِ وَالْإِحَاطَةِ بِكُلِّ خَلْقِهِ، وَالْمَعِيَّةُ الْخَاصَّةُ هِيَ مَعِيَّةُ النُّصْرَةِ وَالتَّأْيِيدِ لِلْمُحْسِنِينَ.

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Dan firman Allah Ta'ala dalam Surah Al-Alaq: Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat? Dan firman-Nya dalam Surah Al-Hadid: Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Ayat-ayat ini memberikan fondasi teologis bagi konsep Ma'iyyah (kebersamaan) Allah. Para mufassir menjelaskan bahwa kebersamaan Allah dibagi menjadi dua. Pertama, Ma'iyyah Ammah (kebersamaan umum) yang mencakup seluruh makhluk melalui ilmu, pengawasan, dan kekuasaan-Nya. Tidak ada satu atom pun di alam semesta yang lepas dari pantauan-Nya. Kedua, Ma'iyyah Khashshah (kebersamaan khusus) yang diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan berbuat Ihsan, berupa pertolongan, perlindungan, dan bimbingan batin. Kesadaran akan ayat-ayat ini merupakan motor penggerak utama bagi seorang Muslim untuk memperbagus kualitas Fiqih ibadahnya agar sesuai dengan standar keridhaan Ilahi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ. وَفِي رِوَايَةٍ: إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ مَحَلَّ التَّقْوَى وَالْإِحْسَانِ هُوَ الْقَلْبُ الَّذِي هُوَ مَلِكُ الْأَعْضَاءِ.

Terjemahan dan Syarah Mendalam: Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian. (HR. Muslim). Hadits ini merupakan bedah mendalam terhadap aspek batiniah dalam beragama. Dalam perspektif Akidah, hadits ini menegaskan bahwa nilai sebuah perbuatan tidak hanya ditentukan oleh rupa formalitasnya (aspek Fiqih), melainkan oleh niat dan ketulusan yang bersemayam di dalam hati. Ihsan berfungsi sebagai filter yang membersihkan hati dari penyakit riya (ingin dilihat manusia) dan sum'ah (ingin didengar manusia). Ketika hati telah mencapai derajat Ihsan, maka setiap gerakan anggota badan dalam shalat, setiap harta yang dikeluarkan dalam zakat, dan setiap rasa lapar dalam puasa akan bertransformasi menjadi cahaya yang menyinari jiwa pelakunya.

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. قَالَ أَهْلُ التَّفْسِيرِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى (وَزِيَادَةٌ): هِيَ النَّظَرُ إِلَى وَجْهِ اللهِ الْكَرِيمِ فِي الْجَنَّةِ، وَهُوَ أَعْظَمُ جَزَاءٍ لِأَهْلِ الْإِحْسَانِ الَّذِينَ عَبَدُوا اللهَ كَأَنَّهُمْ يَرَوْنَهُ فِي الدُّنْيَا.

Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Bagi orang-orang yang berbuat baik (Ihsan), ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus: 26). Para ahli tafsir, termasuk berdasarkan penjelasan Rasulullah dalam hadits shahih, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Al-Husna adalah Surga, sedangkan Az-Ziyadah (tambahannya) adalah kenikmatan melihat wajah Allah yang mulia. Ini adalah korelasi eskatologis yang sangat indah: barangsiapa yang di dunia beribadah dengan derajat Ihsan (seolah-olah melihat Allah), maka di akhirat kelak Allah akan memberikan balasan berupa kesempatan nyata untuk melihat-Nya tanpa penghalang. Ini adalah puncak kebahagiaan yang melampaui segala kenikmatan fisik di surga.