Dunia Islam saat ini sedang menunjukkan taringnya dalam panggung diplomasi internasional, bukan melalui kekuatan militer semata, melainkan lewat jalur kemanusiaan yang menyentuh hati. Berbagai negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), termasuk Indonesia, secara masif menggalang kekuatan untuk menembus blokade bantuan di wilayah-wilayah konflik seperti Palestina dan Sudan. Diplomasi ini bukan sekadar urusan politik luar negeri, melainkan manifestasi nyata dari perintah agama untuk saling menolong dalam kebaikan dan mempererat tali persaudaraan antarmanusia.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus memperkuat posisi tawar di forum internasional guna memastikan bantuan logistik, medis, dan pangan sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Langkah ini didukung penuh oleh lembaga-lembaga zakat dan kemanusiaan di tanah air yang bergerak serentak mengumpulkan donasi dari masyarakat. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sipil ini mencerminkan kekuatan kolektif umat Islam yang tidak pernah diam melihat penderitaan saudaranya di belahan bumi lain, sekaligus menjadi bukti bahwa nilai-nilai Islam sangat kompatibel dengan aksi kemanusiaan universal.
[Kabar Berita Indonesia]
Upaya Indonesia dalam mendamaikan konflik dan mengirimkan bantuan adalah bentuk nyata dari pengamalan ayat suci Al-Quran mengenai persaudaraan sesama mukmin yang harus selalu dijaga dan diperbaiki hubungannya.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
[Terjemahan & Relevansi Indonesia]
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al-Hujurat: 10). Ayat ini menjadi landasan teologis bagi para diplomat Muslim bahwa membantu sesama Muslim bukan sekadar pilihan politik, melainkan kewajiban persaudaraan yang mengundang rahmat Allah bagi bangsa ini.
Di tingkat regional, negara-negara seperti Qatar dan Turki juga memainkan peran krusial sebagai mediator yang disegani dalam berbagai konflik di Timur Tengah. Mereka tidak hanya mengirimkan pesawat berisi berton-ton bantuan darurat, tetapi juga menyediakan meja perundingan untuk mencari solusi jangka panjang yang berkeadilan. Keberhasilan diplomasi ini sangat bergantung pada kejujuran niat dan keteguhan prinsip dalam membela hak-hak asasi manusia yang seringkali terabaikan oleh standar ganda politik global.
[Kabar Berita Indonesia]

