Memahami hakikat ketuhanan merupakan puncak dari segala disiplin ilmu dalam Islam. Tauhid bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah konstruksi pemikiran yang dibangun di atas argumentasi rasional (aqli) dan otoritas wahyu (naqli). Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy-ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika sifat-sifat wajib bagi Allah guna menjaga kemurnian akidah dari paham tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (peniadaan). Sifat-sifat ini diklasifikasikan menjadi empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyyah, yang secara keseluruhan menggambarkan kesempurnaan mutlak Sang Khaliq.
الْقِسْمُ الْأَوَّلُ هِيَ الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ وَهِيَ الْوُجُوْدُ فَالْوُجُوْدُ لَيْسَ عَيْنَ الذَّاتِ وَلَا غَيْرَهَا فِي الْإِعْتِبَارِ الذِّهْنِيِّ وَهُوَ ثَابِتٌ لِلّٰهِ تَعَالَى دَائِمًا وَأَبَدًا بِلَا ابْتِدَاءٍ وَلَا انْتِهَاءٍ وَالدَّلِيْلُ عَلَى وُجُوْدِهِ تَعَالَى هُوَ وُجُوْدُ هٰذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ وَتَرْتِيْبُهَا الْبَدِيْعُ الَّذِي لَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ صُدْفَةً أَوْ بِلَا مُوْجِدٍ قَدِيْرٍ وَعَلِيْمٍ فَسُبْحَانَ مَنْ ظَهَرَ بِآثَارِ قُدْرَتِهِ وَبَطَنَ بِكَمَالِ عَظَمَتِهِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Bagian pertama adalah Sifat Nafsiyyah, yaitu Wujud (Ada). Dalam kajian ontologi ketuhanan, Wujud Allah bukanlah sesuatu yang menempel pada dzat-Nya, melainkan identitas esensial yang menandakan bahwa Allah itu nyata secara mutlak. Keberadaan Allah bersifat wajib (Wajib al-Wujud), berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat mungkin (Mumkin al-Wujud). Dalil yang digunakan adalah argumen kosmologis: keberadaan alam semesta dengan keteraturan yang presisi ini mustahil terjadi secara kebetulan atau muncul dari ketiadaan tanpa adanya Pencipta yang Maha Kuasa. Secara filosofis, jika alam ini adalah akibat (ma'lul), maka harus ada Sebab Pertama (Illat al-Ula) yang tidak didahului oleh ketiadaan.
ثُمَّ الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ وَهِيَ خَمْسُ صِفَاتٍ الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ وَمَعْنَى السَّلْبِيَّةِ أَنَّهَا تَسْلِبُ وَتَنْفِي عَنِ اللّٰهِ تَعَالَى كُلَّ مَا لَا يَلِيْقُ بِجَلَالِهِ فَهُوَ الْقَدِيْمُ بِلَا ابْتِدَاءٍ وَالْبَاقِي بِلَا انْتِهَاءٍ لَا يُشْبِهُ شَيْئًا مِنَ الْمَخْلُوْقَاتِ وَلَا يَحْتَاجُ إِلَى مَحَلٍّ أَوْ مُخَصِّصٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:
Selanjutnya adalah Sifat Salbiyyah yang berjumlah lima: Qidam (Dahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Sifat Salbiyyah berfungsi untuk menegasikan atau meniadakan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi Allah. Qidam menegasikan adanya titik awal bagi Allah, sedangkan Baqa menegasikan titik akhir. Mukhalafatu lil Hawaditsi menegaskan bahwa Allah suci dari dimensi ruang, waktu, dan materi. Qiyamuhu Binafsihi menunjukkan kemandirian mutlak-Nya tanpa membutuhkan bantuan apa pun. Wahdaniyyah adalah inti dari tauhid, yang meniadakan adanya sekutu baik dalam Dzat, Sifat, maupun Perbuatan-Nya.
وَمِنْهَا صِفَاتُ الْمَعَانِي وَهِيَ قُدْرَةٌ وَإِرَادَةٌ وَعِلْمٌ وَحَيَاةٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ وَكَلَامٌ فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَتَأَتَّى بِهَا إِيْجَادُ كُلِّ مُمْكِنٍ وَإِعْدَامُهُ عَلَى وَفْقِ الْإِرَادَةِ وَالْعِلْمُ صِفَةٌ تَنْكَشِفُ بِهَا الْمَعْلُوْمَاتُ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ انْكِشَافًا لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيْضَ بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوْهِ فَاللّٰهُ يَعْلَمُ الْكُلِّيَّاتِ وَالْجُزْئِيَّاتِ وَمَا كَانَ وَمَا يَكُوْنُ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3:

