Kehidupan di era modern membawa berbagai kemudahan teknologi dan informasi yang luar biasa. Namun, di balik kemajuan tersebut, terdapat tantangan besar bagi seorang Muslim dalam menjaga kemurnian akidahnya. Tauhid bukan sekadar ucapan lisan, melainkan fondasi utama yang menentukan arah hidup dan keselamatan kita di dunia maupun di akhirat. Di tengah hiruk-pikuk gaya hidup materialistis, menjaga tauhid menjadi perisai agar hati kita tidak terombang-ambing oleh nilai-nilai yang menjauhkan diri dari Sang Pencipta.
Dasar utama dari pentingnya menjaga tauhid ini telah ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an sebagai syarat mendapatkan keamanan dan petunjuk hidup. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Artinya: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-An'am: 82).
Secara mendalam, tauhid mengajarkan kita bahwa hanya Allah satu-satunya otoritas tertinggi dalam mengatur kehidupan. Dalam konteks modern, tantangan tauhid seringkali muncul dalam bentuk yang halus, seperti ketergantungan yang berlebihan pada sebab-sebab materi hingga melupakan Dzat yang menggerakkan sebab tersebut. Menjaga tauhid berarti memastikan bahwa cinta, rasa takut, dan harapan kita hanya tertuju sepenuhnya kepada Allah SWT, bukan kepada jabatan, kekayaan, atau pengakuan manusia di media sosial.
Implementasi tauhid dalam keseharian dapat kita mulai dengan senantiasa menyandarkan segala urusan kepada Allah (tawakkal). Saat kita menghadapi tekanan pekerjaan atau persoalan hidup yang pelik, seorang yang bertauhid akan tetap tenang karena ia meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas izin-Nya. Ia tidak akan menempuh jalan yang dilarang agama hanya demi meraih kesuksesan duniawi, karena ia sadar bahwa keberkahan hanya datang dari ketaatan kepada Allah semata.
Lebih lanjut, kita perlu waspada terhadap "syirik khafi" atau syirik tersembunyi yang sering muncul di era digital, seperti sifat riya atau pamer dalam beribadah. Keinginan untuk dipuji oleh sesama manusia atas amal kebaikan yang dilakukan dapat menggerus nilai tauhid dalam hati. Oleh karena itu, meluruskan niat secara terus-menerus menjadi agenda wajib bagi setiap Muslim agar setiap aktivitas, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi, tetap bernilai ibadah di sisi-Nya.
Menjaga tauhid juga memberikan dampak psikologis yang luar biasa, yaitu ketenangan batin atau *thuma’ninah*. Di saat banyak orang merasa cemas dan depresi menghadapi ketidakpastian masa depan, seorang muwahhid (orang yang bertauhid) memiliki pegangan yang kokoh. Ia memahami bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, sehingga ia tidak akan berputus asa saat kehilangan dan tidak akan sombong saat mendapatkan nikmat.
Pendidikan akidah yang kuat sejak dini di lingkungan keluarga menjadi kunci utama agar generasi mendatang tidak kehilangan jati diri Islamnya. Mempelajari ilmu tauhid secara konsisten melalui kajian-kajian yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah akan mempertebal benteng pertahanan kita dari paham-paham yang merusak iman. Tanpa pemahaman tauhid yang benar, seseorang akan mudah terseret arus tren yang mungkin saja bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama.

