Ilmu Tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba, di mana pengenalan terhadap Sang Pencipta (Marifatullah) menjadi titik tolak segala bentuk peribadatan. Para ulama dari kalangan Mutakallimin, khususnya dalam madrasah Asy-ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pemahaman terhadap sifat-sifat Allah guna memagari akidah umat dari paham tasybih (penyerupaan) maupun tathil (peniadaan sifat). Sifat wajib bagi Allah bukanlah sekadar atribut teoretis, melainkan hakikat ontologis yang niscaya bagi kesempurnaan Dzat yang Maha Kuasa. Memahami sifat-sifat ini memerlukan integrasi antara dalil naqli yang bersumber dari wahyu dan dalil aqli yang bersumber dari nalar sehat yang jernih.

PEMBAHASAN PERTAMA: SIFAT NAFSIYAH DAN SALBIYAH (Wujud, Qidam, dan Baqa)

Dalam Artikel

Penetapan eksistensi Allah (Wujud) adalah langkah awal dalam bertauhid. Allah adalah Wajibul Wujud, Dzat yang keberadaannya bersifat mutlak dan menjadi sebab bagi adanya seluruh alam semesta. Sifat ini kemudian diikuti oleh sifat Salbiyah seperti Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa kesudahan), yang berfungsi untuk meniadakan segala sifat kekurangan yang biasa melekat pada makhluk (hawadits).

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Rasul-rasul mereka berkata: Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10). Dalam tinjauan tafsir, pertanyaan retoris ini menegaskan bahwa keberadaan Allah adalah sebuah aksioma (kebenaran yang nyata dengan sendirinya). Secara aqli, mustahil bagi alam yang baru ini (hadits) muncul tanpa adanya pencipta yang bersifat Qadim (dahulu). Jika Allah tidak bersifat Qadim, maka Dia akan bersifat baru, dan jika Dia baru, maka Dia membutuhkan pencipta lain, yang akan berujung pada mata rantai tanpa akhir (tasalsul) atau lingkaran logika (daur), yang keduanya mustahil secara akal. Oleh karena itu, Allah wajib bersifat Wujud, Qidam, dan Baqa.

PEMBAHASAN KEDUA: MUKHALAFATU LIL HAWADITSI (Keterbedaan Mutlak dari Makhluk)

Prinsip utama dalam tanzih (mensucikan Allah) adalah meyakini bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi mencakup keterbedaan dalam Dzat, sifat-sifat, maupun perbuatan. Allah tidak dibatasi oleh ruang, waktu, bentuk, maupun dimensi fisik. Keyakinan ini merupakan benteng utama dalam menghindari kesesatan antropomorfisme yang mencoba memvisualisasikan Tuhan dalam bentuk materi.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Ash-Shura: 11). Ayat ini merupakan landasan paling kuat dalam ilmu kalam mengenai sifat Mukhalafah. Bagian pertama ayat (Laisa kamitslihi syaiun) berfungsi sebagai penafian total terhadap segala bentuk keserupaan. Sedangkan bagian kedua (Wa huwas-samiiul bashiir) menetapkan sifat bagi Allah. Hal ini mengajarkan bahwa Allah memiliki sifat mendengar dan melihat, namun hakikat pendengaran dan penglihatan-Nya tidak menggunakan alat (organ tubuh) dan tidak terbatas sebagaimana pendengaran makhluk. Inilah yang disebut dengan penetapan sifat tanpa penyerupaan (Itsbat bila tasybih).