Fondasi utama dalam beragama adalah makrifatullah, yaitu mengenal Allah Swt dengan pengenalan yang benar dan kokoh. Para ulama tauhid, khususnya dari mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang diwakili oleh Al-Asy'ariyah dan Al-Maturidiyah, telah merumuskan metodologi yang sangat sistematis untuk memahami pencipta alam semesta melalui konsep sifat-sifat wajib bagi Allah. Sifat wajib ini bukanlah zat baru yang menempel pada-Nya, melainkan karakter kesempurnaan mutlak yang niscaya ada pada Zat-Nya yang Maha Agung. Secara garis besar, para teolog membagi sifat-sifat ini menjadi empat kategori utama, yaitu nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah. Pendekatan ini tidak hanya mengandalkan teks wahyu semata, melainkan juga menyelaraskannya dengan dalil aqli atau logika rasional yang sehat. Hal ini penting dilakukan guna membentengi akidah umat dari syubhat ateisme, agnostisisme, maupun paham antropomorfisme yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Melalui kajian mendalam ini, kita akan membedah lima pilar utama sifat wajib Allah dengan menyandingkan teks-teks Al-Quran yang otoritatif beserta syarah teologisnya yang komprehensif.

Berikut adalah pembahasan mendalam mengenai sifat-sifat wajib bagi Allah Swt beserta dalil dan penjelasannya.

Dalam Artikel

Sifat pertama yang menjadi fondasi dari seluruh sifat ketuhanan adalah Wujud. Wujud dikategorikan sebagai sifat nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan esensi zat itu sendiri tanpa adanya tambahan makna lain. Secara rasional, keberadaan alam semesta yang sangat teratur dan presisi ini mustahil terjadi dengan sendirinya tanpa adanya sang pencipta yang wajib adanya (Wajib al-Wujud). Ketiadaan pencipta akan membawa pada kontradiksi logis yang mustahil diterima oleh akal sehat manusia.

أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى

Terjemahan: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai batas waktu yang ditentukan. (Surah Ibrahim, Ayat 10)

Syarah dan Tafsir: Ayat ini menggunakan retorika pertanyaan retoris untuk menegaskan bahwa keberadaan Allah adalah sebuah keniscayaan yang tidak menyisakan ruang bagi keraguan sedikit pun. Kata fatir yang berarti pencipta dari ketiadaan menunjukkan bahwa Allah adalah sebab pertama (al-illah al-ula) yang mewujudkan alam semesta. Dalam pandangan teologi Islam, alam semesta ini bersifat mungkin adanya (mumkin al-wujud), yang berarti ia bisa ada dan bisa juga tidak ada. Sesuatu yang bersifat mungkin membutuhkan penentu (murajjih) eksternal untuk mengubah statusnya dari tiada menjadi ada. Penentu mutlak itulah Allah Swt yang keberadaan-Nya bersifat mutlak dan mandiri, tidak membutuhkan pencipta lain yang akan menyebabkan rantai penciptaan tanpa akhir yang mustahil secara logika (tasalsul).

Setelah menetapkan keberadaan-Nya, akal sehat menuntut bahwa eksistensi tersebut tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak diakhiri oleh kepunahan. Di sinilah letak pentingnya sifat Qidam (Terdahulu tanpa awal) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Kedua sifat ini masuk dalam kategori sifat salbiyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi untuk menafikan atau menolak hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Allah mendahului segala sesuatu dan akan tetap ada setelah segala sesuatu musnah.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Terjemahan: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Nyata dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Surah Al-Hadid, Ayat 3)