Dalam diskursus teologi Islam, khususnya dalam mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang dipelopori oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, pemahaman terhadap sifat-sifat Allah Swt merupakan fondasi utama dalam beragama. Mengenal Allah atau makrifatullah tidak dapat dicapai secara sempurna tanpa memahami sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi-Nya. Formulasi dua puluh sifat wajib bagi Allah bukanlah sebuah pembatasan terhadap kesempurnaan-Nya yang tanpa batas, melainkan sebuah metodologi pedagogis yang disusun oleh para ulama mutakallimin untuk menjaga akidah umat dari penyimpangan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'til (menolak sifat-sifat Allah). Sifat-sifat ini diklasifikasikan secara sistematis ke dalam empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Pendekatan ini menggabungkan ketajaman dalil naqli yang bersumber dari wahyu dan dalil aqli yang bersumber dari rasionalitas sehat, sehingga melahirkan pemahaman akidah yang kokoh dan tidak tergoyahkan oleh syubhat filsafat materialisme maupun ateisme modern.
Pembahasan dimulai dari sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri tanpa adanya penambahan makna luar, yaitu sifat Wujud (Ada). Keberadaan alam semesta yang bersifat baru dan dinamis ini merupakan dalil aqli yang paling nyata atas wujud-Nya Sang Pencipta. Secara logika, sesuatu yang baru tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa ada yang mewujudkannya. Eksistensi Allah adalah wujud yang hakiki, mutlak, dan bersifat wajib (wajib al-wujud), berbeda dengan eksistensi makhluk yang bersifat mungkin (mumkin al-wujud) dan bergantung sepenuhnya pada kehendak Sang Pencipta.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Terjemahan: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (

