Pondasi utama dalam konstruksi akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah rests pada pemahaman mendasar mengenai ma'rifatullah atau mengenal Allah SWT secara rasional dan tekstual. Para ulama mutakallimin, seperti Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari, Imam Abu Mansur al-Maturidi, dan disempurnakan secara sistematis oleh Imam Muhammad bin Yusuf al-Sanusi dalam magnum opusnya Umm al-Barahin, telah memformulasikan metodologi ilmiah untuk memahami sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan ja'iz bagi Allah SWT. Pemetaan ini bukan merupakan pembatasan terhadap kesempurnaan Allah yang tak terbatas, melainkan sebuah kerangka epistemologis yang dirancang untuk menjaga akal manusia dari keterjebakan dalam pemikiran tasybih (antropomorfisme) maupun ta'til (agnostisisme/penefian sifat). Sifat wajib bagi Allah diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama: Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyyah.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْبُرْهَانِ الْمُبِينِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَوَّلَ وَاجِبٍ عَلَى الْمُكَلَّفِ شَرْعًا هُوَ مَعْرِفَةُ اللَّهِ تَعَالَى بِالْأَدِلَّةِ الْيَقِينِيَّةِ. وَمَعْنَى الْمَعْرِفَةِ هُوَ الْجَزْمُ الْمُطَابِقُ لِلْوَاقِعِ عَنْ دَلِيلٍ. فَيَجِبُ فِي حَقِّ مَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً: فَالْأُولَى الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ وَهِيَ الْوُجُودُ، ثُمَّ خَمْسُ صِفَاتٍ سَلْبِيَّةٍ، ثُمَّ سَبْعُ صِفَاتِ مَعَانٍ، ثُمَّ سَبْعُ صِفَاتٍ مَعْنَوِيَّةٍ.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW pemilik bukti yang nyata, serta kepada keluarga dan para sahabatnya seluruhnya. Amma ba'du: Sesungguhnya kewajiban pertama bagi seorang mukallaf secara syariat adalah mengenal Allah SWT dengan dalil-dalil yang pasti. Makna ma'rifat adalah keyakinan yang mantap, sesuai dengan kenyataan, yang bersumber dari dalil. Maka wajib bagi Penguasa kita yang Maha Agung dan Maha Perkasa dua puluh sifat: yang pertama adalah sifat Nafsiyyah yaitu Al-Wujud (Ada), kemudian lima sifat Salbiyyah, kemudian tujuh sifat Ma'ani, dan kemudian tujuh sifat Ma'nawiyyah.
Dalam mazhab Asy'ariyah, sifat pertama adalah sifat Nafsiyyah yang diwakili oleh Al-Wujud. Keberadaan Allah bersifat dhati, artinya wujud-Nya tidak membutuhkan sebab eksternal (illat) atau pencipta lain. Berbeda dengan alam semesta yang keberadaannya bersifat mumkinaat (berpeluang ada dan tiada) serta bergantung pada pencipta. Logika rasional menegaskan bahwa perubahan yang terjadi pada alam semesta menunjukkan bahwasanya alam ini adalah huduts (baru), dan setiap yang baru secara mutlak membutuhkan muhdits (pencipta).
كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ . وَقَالَ تَعَالَى: أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ. وَالدَّلِيلُ الْعَقْلِيُّ عَلَى وُجُودِهِ تَعَالَى هُوَ حُدُوثُ الْعَالَمِ، إذْ لَوْ كَانَ قَدِيمًا لَلَزِمَ نَفْيُ الْحَوَادِثِ، وَهُوَ بَاطِلٌ بِالْمُشَاهَدَةِ. فَمَتَى ثَبَتَ حُدُوثُهُ اِفْتَقَرَ إِلى مُحْدِثٍ وَهُوَ اللَّهُ تَعَالَى.
Allah telah menetapkan: Aku pasti menang, Aku dan rasul-rasul-Ku. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan Allah Ta'ala berfirman: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu. Dan dalil akal atas keberadaan Allah Ta'ala adalah kebaharuan alam semesta, sebab jika alam ini terdahulu (tanpa awal), maka niscaya berkonsekuensi meniadakan hal-hal baru, dan hal itu batal berdasarkan pengamatan langsung. Ketika kebaharuan alam telah terbukti, maka alam membutuhkan sang Pencipta, yaitu Allah Ta'ala.
Kategori kedua adalah sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi meniadakan segala prasangka atau penafsiran yang tidak layak bagi keagungan Zat Allah. Sifat Salbiyyah mencakup lima hal: Qidam (Terdahulu/Tanpa Awal), Baqa' (Kekal/Tanpa Akhir), Mukhalafatu lil-Hawadithi (Berbeda dari Makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Memahami Mukhalafatu lil-Hawadithi sangat krusial dalam tradisi teologi Islam guna membendung paham tajsim yang menganggap Allah memiliki fisik atau terikat oleh ruang dan waktu.
فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرُؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَقَوْلُهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ، صَرِيحٌ فِي نَفْيِ الْمَثَلِيَّةِ وَالشَّبِيهِ وَالْجِسْمِيَّةِ وَالْمَكَانِ وَالزَّمَانِ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى، لِأَنَّ كُلَّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللَّهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ.
Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dial

