Peradaban modern telah membawa kemajuan eksponensial dalam sains, teknologi, dan tata kelola material. Namun, di balik pencapaian lahiriah tersebut, manusia modern sedang mengalami krisis eksistensial dan disrupsi spiritual yang amat akut. Sekularisme yang memisahkan otoritas ilahiah dari kehidupan publik, rasionalisme hiper-kritis, serta konsumerisme yang tidak terkendali secara perlahan mengikis fondasi keimanan umat Islam. Tauhid, sebagai pilar paling fundamental dalam doktrin Islam, tidak lagi sekadar dipahami sebagai pengakuan dogmatis akan keberadaan Allah, melainkan harus diaktualisasikan sebagai benteng epistemologis, ontologis, dan aksiologis. Tanpa pemurnian tauhid, manusia modern rentan terjatuh ke dalam bentuk-bentuk kemusyrikan baru yang amat halus, seperti deifikasi hawa nafsu, ketergantungan mutlak pada sebab-sebab material, serta fenomena perbudakan finansial. Oleh karena itu, merefleksikan kembali teks-teks otoritatif Al-Quran dan As-Sunnah menjadi sebuah keniscayaan hermeneutis demi menjaga kemurnian akidah di tengah deru zaman.
Secara epistemologis, Al-Quran telah menetapkan bahwa asas dari seluruh penciptaan alam semesta dan keberadaan jin serta manusia berporos pada satu tujuan utama, yaitu pengabdian yang murni kepada Allah Ta'ala. Konsep ibadah dalam konteks ini mencakup seluruh spektrum kehidupan, yang mana tauhid uluhiyyah menjadi jantungnya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ۞ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ ۞ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Formula Epistemologis Akidah Ahlussunnah wal Jamaah Dalam Memahami Sifat Wajib Bagi Allah SWT
Terjemahan dan Syarah Tafsir:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. Az-Zariyat: 56-58)
Dalam perpektif metodologi tafsir bil-ma'tsur, Al-Hafiz Ibn Kathir menjelaskan dalam karya tafsirnya bahwa makna ayat ini menegaskan bahwasanya Allah menciptakan makhluk semata-mata untuk beribadah kepada-Nya tanpa menysekutukan-Nya. Imam Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan lafaz 'illa liya'budun' dengan makna 'illa liyuwahhidun' (melainkan agar mereka bertauhid menyatukan penghambaan hanya kepada-Ku). Penggunaan huruf 'lam' di sini menunjukkan 'lam al-aqibah' atau 'lam al-ghayah' (tujuan penciptaan). Pada era modern, di mana kecemasan akan rezeki dan masa depan finansial sering kali mengikis integritas iman, ayat ini menyentak kesadaran manusia bahwa jaminan rezeki berada sepenuhnya di tangan Allah yang memiliki nama Ar-Razzaq dan Dzul Quwwatil Matin. Penyandingan tauhid uluhiyyah dengan tauhid rububiyah dalam hal jaminan rezeki merupakan penawar atas penyakit materialisme modern yang menganggap bahwa kemampuan finansial manusia semata-mata adalah hasil karya independen mereka sendiri.
Tantangan tauhid di era modern tidak hanya berwujud penyembahan pada berhala fisik, melainkan penyembahan pada entitas abstrak yang bertakhta di dalam jiwa manusia, yakni hawa nafsu dan egosentrisme. Fenomena individualisme radikal dan hedonisme telah menjadikan dorongan subjektif manusia sebagai standar kebenaran tertinggi, menggantikan syariat ilahi.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Terjemahan dan Syarah Tafsir:

