Memahami hakikat ketuhanan dalam Islam merupakan kewajiban utama bagi setiap mukallaf. Para ulama mutakallimin dari kalangan Asy-Sya'irah dan Al-Maturidiyyah telah merumuskan kodifikasi akidah secara sistematis guna menjaga keaslian tauhid dari pemikiran deviatif. Fondasi utama dalam marifatullah ini ditopang oleh pemahaman komprehensif mengenai sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah Swt. Sifat wajib bukanlah zat itu sendiri dan bukan pula selain dari zat, melainkan sifat-sifat azali yang berdiri pada Zat Allah Swt yang tidak dapat dipisahkan.
Penyusunan kerangka sifat dua puluh oleh Imam Muhammad bin Yusuf Ash-Shanusi dalam kitab Umm al-Barahin menjadi pijakan epistemic yang sangat rasional sekaligus terikat kuat pada dalil wahyu. Sifat-sifat wajib ini diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Untuk memahami dialektika teologis ini, kita harus menelaah nash-nash Al-Quran serta matan keilmuan klasik yang menjadi acuan utama para fuqaha dan mufassir.
Berikut adalah uraian mendalam mengenai sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi dan Wahdaniyyah sebagai fondasi penucian Zat Ilahi dari segala sifat kekurangan dan keserupaan.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . وَاعْلَمْ أَنَّ كُلَّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَافِ ذَلِك ، لِأَنَّ الْحُدُوثَ عَلَامَةُ النَّقْصِ ، وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُنَزَّهٌ عَنْ كُلِّ نَقْصٍ وَعَجْزٍ فِي ذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ
Terjemahan dan Syarah Akidah:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Ash-Shura: 11). Dan ketahuilah bahwa apa pun yang terlintas dalam benak pikiranmu, maka Allah tidak seperti itu. Karena keterbaharuan (hadats) adalah tanda kekurangan, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Suci dari segala bentuk kekurangan dan kelemahan pada Zat-Nya, Sifat-Nya, maupun Perbuatan-Nya.
Syarah:
Ayat ini merupakan fondasi utama sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi (berbeda dengan makhluk). Kalimat "Laisa kamitslihi syai'un" menolak segala bentuk tasybih (penyerupaan) dan tajsim (pembadanan). Para mutakallimin menegaskan bahwa Allah tidak terikat oleh ruang, waktu, arah, bentuk, maupun ukuran. Sifat ini tergolong Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah Swt. Keberadaan Allah bersifat independen dan mutlak, tidak membutuhkan tempat (makan) maupun masa (zaman).
Selanjutnya, pemahaman mengenai eksistensi Allah yang tanpa awal dan tanpa akhir dikunci melalui sifat Qidam dan Baqa.

