Ilmu tauhid merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa pemahaman yang benar mengenai Zat yang disembah, ibadah seseorang berisiko kehilangan arah dan esensinya. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematisasi sifat-sifat Allah yang wajib diketahui oleh setiap mukallaf. Sifat-sifat ini bukan sekadar atribut teoretis, melainkan representasi dari kesempurnaan mutlak yang dimiliki oleh Sang Khalik. Mengenal sifat wajib bagi Allah adalah langkah awal menuju ma’rifatullah yang sejati, di mana akal manusia dipandu oleh wahyu untuk memahami batasan-batasan ketuhanan yang tidak mungkin dicapai hanya melalui panca indera. Kajian ini akan membedah secara mendalam klasifikasi sifat-sifat tersebut, mulai dari sifat nafsiyah, salbiyah, ma’ani, hingga ma’nawiyah, dengan menyandarkan setiap argumen pada teks-teks otoritatif Al-Qur'an dan hadits Nabi Saw.

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ. وَالْوُجُودُ هُوَ الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ الَّتِي لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ بِدُونِهَا، وَهُوَ عَيْنُ الذَّاتِ فِي حَقِّ اللَّهِ تَعَالَى، إِذْ لَا عِلَّةَ لِوُجُودِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]

Rasul-rasul mereka berkata: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai waktu yang ditentukan. (QS. Ibrahim: 10). Dalam tinjauan akidah, sifat pertama yang wajib bagi Allah adalah Wujud (Ada). Sifat ini dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan adanya Zat itu sendiri tanpa ada tambahan makna lain. Para mufassir menjelaskan bahwa keberadaan Allah adalah wujud yang bersifat dharuri (niscaya) dan qadim (tanpa permulaan). Berbeda dengan makhluk yang wujudnya bersifat mumkin (mungkin ada dan mungkin tidak ada), wujud Allah adalah wujud hakiki yang menjadi sumber bagi segala eksistensi di alam semesta. Secara aqli, keteraturan kosmos ini mustahil terjadi tanpa adanya Pengatur yang Maha Ada. Sifat Wujud ini meniadakan sifat Adam (Tiada), karena mustahil secara logika bahwa pencipta alam semesta ini tidak eksis.

[TEKS ARAB BLOK 2]

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَهَذِهِ الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ تَسْلِبُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ، كَالْقِدَمِ وَالْبَقَاءِ وَالْمُخَالَفَةِ لِلْحَوَادِثِ وَالْقِيَامِ بِالنَّفْسِ وَالْوَحْدَانِيَّةِ

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2]

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. (QS. Ash-Shura: 11). Ayat ini merupakan landasan utama bagi Sifat Salbiyah, khususnya Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk). Sifat Salbiyah adalah sifat yang berfungsi meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Kelompok ini mencakup Qidam (Terdahulu tanpa permulaan), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan yang baru), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyah (Esa). Analisis mendalam menunjukkan bahwa Allah tidak terikat oleh ruang, waktu, dimensi, maupun komposisi fisik. Jika Allah menyerupai makhluk, maka Allah akan membutuhkan pencipta lain, dan hal ini akan menyebabkan tasalsul (mata rantai tanpa ujung) yang mustahil secara logika. Wahdaniyah atau keesaan Allah mencakup keesaan dalam Zat, Sifat, dan Af’al (perbuatan), yang menegaskan bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya dalam