Ilmu Tauhid atau yang sering disebut sebagai Ushuluddin merupakan fondasi utama dalam bangunan keislaman seorang hamba. Tanpa landasan akidah yang kokoh, seluruh amal ibadah laksana debu yang beterbangan ditiup angin. Salah satu pilar terpenting dalam disiplin ilmu ini adalah mengenal sifat-sifat yang wajib bagi Allah Swt (Ma’rifatullah). Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan 20 sifat wajib bagi Allah yang disarikan dari Al-Quran dan As-Sunnah melalui metode istiqra (penelitian mendalam). Sifat-sifat ini bukan sekadar hafalan, melainkan representasi dari kesempurnaan mutlak Sang Pencipta yang harus diyakini secara jزم (pasti) tanpa keraguan sedikit pun. Pemahaman yang mendalam terhadap sifat-sifat ini akan membawa seorang mukmin pada tingkat ketauhidan yang murni, menjauhkannya dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta’thil (meniadakan sifat Allah).

[TEKS ARAB BLOK 1]

Dalam Artikel

فَأَوَّلُ مَا يَجِبُ عَلَى الْمُكَلَّفِ مَعْرِفَتُهُ هُوَ وُجُودُ اللهِ تَعَالَى، وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يَتَصَوَّرُ الْعَقْلُ الذَّاتَ بِدُونِهَا. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: أَفِي اللهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ. وَالْوُجُودُ لِلَّهِ تَعَالَى ذَاتِيٌّ لَيْسَ بِمُكْتَسَبٍ وَلَا مَعْلُولٍ لِعِلَّةٍ، بَلْ هُوَ الْوَاجِبُ الْوُجُودِ لِذَاتِهِ الَّذِي يَفْتَقِرُ إِلَيْهِ كُلُّ مَا سِوَاهُ فِي صُدُورِهِ وَبَقَائِهِ، وَهَذَا هُوَ الْأَصْلُ الَّذِي تَنْبَنِي عَلَيْهِ سَائِرُ الصِّفَاتِ الْكَمَالِيَّةِ.

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]

Maka hal pertama yang wajib diketahui oleh setiap mukallaf adalah Wujud (keberadaan) Allah Ta’ala. Wujud dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang berhubungan dengan Dzat Allah itu sendiri, di mana akal tidak mungkin membayangkan adanya Dzat tanpa adanya sifat wujud ini. Allah Swt berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 10: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Secara filosofis dan teologis, wujud Allah bersifat Dzati, artinya keberadaan-Nya tidak disebabkan oleh faktor luar atau pencipta lain. Dia adalah Wajibul Wujud (Wajib adanya) secara esensi. Segala sesuatu selain Allah bersifat Mumkinul Wujud (mungkin adanya), yang keberadaannya sangat bergantung pada kehendak dan penciptaan-Nya. Tanpa meyakini wujud Allah sebagai basis utama, maka runtuhlah seluruh bangunan keimanan seseorang.

[TEKS ARAB BLOK 2]

ثُمَّ يَلِي ذَلِكَ الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ الَّتِي تَنْفِي عَنِ اللهِ مَا لَا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ، وَمِنْهَا الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ. قَالَ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَالْقِدَمُ يَعْنِي سَلْبَ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ، وَالْبَقَاءُ يَعْنِي سَلْبَ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ، وَالْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ تَعْنِي أَنَّهُ سُبْحَانَهُ لَيْسَ بِجِرْمٍ وَلَا عَرَضٍ وَلَا فِي جِهَةٍ وَلَا مَكَانٍ، فَتَعَالَى اللهُ عَنْ مُشَابَهَةِ الْمَخْلُوقَاتِ عُلُوًّا كَبِيرًا.

[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2]

Kemudian diikuti oleh Sifat-sifat Salbiyyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi meniadakan segala hal yang tidak layak bagi keagungan Allah. Di antaranya adalah Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), dan Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk). Allah berfirman: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (QS. Asy-Syura: 11). Sifat Qidam menafikan adanya ketiadaan sebelum Allah ada, sedangkan Baqa menafikan adanya ketiadaan setelah Allah ada