Ilmu tauhid merupakan fondasi paling fundamental dalam bangunan keislaman seorang hamba. Para ulama mutakallimin, khususnya dari madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematika pengenalan terhadap Allah Swt melalui konsep Sifat Duapuluh. Upaya ini bukan sekadar formalitas teologis, melainkan sebuah ikhtiar epistemologis untuk membedakan antara Sang Khalik yang bersifat qadim dengan makhluk yang bersifat hadits (baru). Memahami sifat-sifat wajib bagi Allah berarti menyelami hakikat keberadaan yang mutlak, di mana akal manusia dituntun untuk mengakui keterbatasannya di hadapan keagungan Zat yang tidak menyerupai apa pun. Kajian ini akan membedah klasifikasi sifat tersebut, mulai dari sifat nafsiyah, salbiyah, ma’ani, hingga ma’nawiyah dengan sandaran teks-teks otoritatif.

الْوَاجِبُ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى عِشْرُوْنَ صِفَةً وَهِيَ الْوُجُوْدُ وَالْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ فَهَذِهِ سِتَّةُ صِفَاتٍ أُوْلَاهَا نَفْسِيَّةٌ وَهِيَ الْوُجُوْدُ وَالْخَمْسَةُ بَعْدَهَا سَلْبِيَّةٌ ثُمَّ سَبْعَةُ صِفَاتٍ تُسَمَّى صِفَاتِ الْمَعَانِي وَهِيَ الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ ثُمَّ سَبْعَةُ صِفَاتٍ تُسَمَّى صِفَاتٍ مَعْنَوِيَّةً

Dalam Artikel

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:

Sifat yang wajib bagi Allah Ta’ala berjumlah dua puluh sifat, yaitu: Wujud (Ada), Qidam (Terdahulu), Baqa (Kekal), Mukhalafatuhu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Enam sifat pertama ini terbagi menjadi Sifat Nafsiyah (yaitu Wujud) dan lima sifat setelahnya disebut Sifat Salbiyah. Kemudian diikuti oleh tujuh sifat yang dinamakan Sifat Ma’ani, yaitu: Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Terakhir adalah tujuh sifat Ma’nawiyah yang merupakan konsekuensi logis dari sifat Ma’ani tersebut. Penjelasan ini menegaskan bahwa keberadaan Allah bukanlah keberadaan yang bersifat kebetulan, melainkan keberadaan yang bersifat dharuri (pasti) dan wajib secara aqli. Sifat Nafsiyah menjelaskan tentang Zat Allah itu sendiri, sedangkan Sifat Salbiyah berfungsi meniadakan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya.

وَمَعْنَى الْوُجُوْدِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى مَوْجُوْدٌ لَا مِنْ عِلَّةٍ وَلَا يَفْتَقِرُ إِلَى مُوجِدٍ يُوجِدُهُ بَلْ هُوَ الْأَوَّلُ الَّذِي لَيْسَ قَبْلَهُ شَيْءٌ وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ وُجُودُ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ فَإِنَّهَا لَا بُدَّ لَهَا مِنْ صَانِعٍ قَدِيمٍ قَائِمٍ بِذَاتِهِ قَالَ اللهُ تَعَالَى أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:

Makna dari Wujud adalah sesungguhnya Allah Ta’ala itu Ada tanpa sebab (illat) dan tidak membutuhkan pencipta yang mewujudkan-Nya. Bahkan Dialah Yang Maha Awal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Dalil atas hal tersebut adalah adanya makhluk-makhluk ini, karena sesungguhnya ciptaan ini pasti membutuhkan Pencipta yang bersifat Qadim (terdahulu) dan berdiri sendiri. Allah Ta’ala berfirman: Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS. Ibrahim: 10). Dalam analisis teologis, sifat Wujud ini merupakan haliyah yang wajib bagi Zat selama Zat itu ada. Keberadaan alam semesta yang memiliki keteraturan sistemik (nizham) menjadi bukti empiris-rasional bahwa di balik fenomena fisik terdapat Sang Penggerak Utama (The Unmoved Mover dalam istilah filsafat, namun dalam Islam disebut Al-Khaliq) yang sifat kewujudannya adalah mutlak, bukan nisbi seperti makhluk.

وَأَمَّا الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ فَهِيَ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى نَفْيِ مَا لَا يَلِيْقُ بِهِ تَعَالَى كَالْقِدَمِ بِمَعْنَى نَفْيِ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُوْدِ وَالْبَقَاءِ بِمَعْنَى نَفْيِ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لَهُ وَمُخَالَفَتِهِ لِلْحَوَادِثِ بِمَعْنَى نَفْيِ الْمُمَاثَلَةِ لِشَيْءٍ مِنَ الْمَخْلُوْقَاتِ لَا فِي الذَّاتِ وَلَا فِي الصِّفَاتِ وَلَا فِي الْأَفْعَالِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 3: