Kajian teologi Islam atau yang secara spesifik dikenal sebagai ilmu kalam merupakan fondasi utama dalam membangun struktur keimanan seorang Muslim. Di tengah gempuran arus pemikiran modern yang cenderung agnostik dan materialistik, rekonstruksi pemahaman terhadap sifat-sifat wajib bagi Allah Swt menjadi sebuah keniscayaan ilmiah. Para ulama mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah telah merumuskan metodologi yang sangat sistematis guna memahami sifat-sifat Allah melalui pendekatan integratif antara wahyu (dalil naqli) dan akal sehat (dalil aqli). Formulasi dua puluh sifat wajib bagi Allah bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah perangkat epistemologis untuk mengenal Allah (makrifatullah) secara benar, sekaligus membentengi akidah dari penyimpangan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (menafikan sifat-sifat Allah). Melalui artikel ilmiah populer ini, kita akan membedah secara mendalam beberapa kluster sifat wajib tersebut dengan merujuk pada teks-teks otoritatif para ulama klasik.

Memulai pembahasan teologis ini, para ulama menetapkan sifat Nafsiyah sebagai fondasi awal. Sifat nafsiyah adalah sifat yang berhubungan dengan zat Allah itu sendiri, yang dengannya zat tersebut ada, yaitu sifat Wujud (Ada). Eksistensi Allah adalah wujud yang mutlak, mandiri, dan menjadi sebab bagi keberadaan seluruh alam semesta. Tanpa menetapkan wujud-Nya terlebih dahulu, seluruh pembahasan mengenai sifat-sifat lainnya menjadi tidak relevan.

Dalam Artikel

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي. وَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ السَّنُوسِيُّ فِي أُمِّ الْبَرَاهِينِ: فَمِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَعَزَّ عِشْرُونَ صِفَةً، وَهِيَ الْوُجُودُ، وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يُمْكِنُ تَقْدِيرُ الذَّاتِ دُونَهَا.

Terjemahan: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. (Sura Thaha: 14). Dan berkata Imam Abu Abdullah As-Sanusi dalam kitab Umm al-Barahin: Maka di antara sifat yang wajib bagi Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Perkasa adalah dua puluh sifat, dan yang pertama adalah Al-Wujud (Ada), dan ia merupakan sifat nafsiyah yang tidak mungkin mengabaikan keberadaan zat tanpa kehadiran sifat tersebut.

Syarah dan Tafsir Mendalam:

Dalam ayat di atas, Allah Swt menegaskan eksistensi diri-Nya dengan menggunakan dhomir mutakallim (kata ganti orang pertama) yang sangat tegas. Kalimat ini merupakan deklarasi wujud hakiki yang tidak membutuhkan pengakuan eksternal untuk menjadi ada. Secara metodologis, Imam As-Sanusi menjelaskan bahwa sifat Nafsiyah seperti Wujud adalah kondisi yang mesti ada pada zat selama zat itu tidak terhalang oleh suatu sebab. Wujud Allah dikategorikan sebagai Wajibul Wujud (Wajib adanya), berbeda dengan wujud makhluk yang bersifat Mumkinul Wujud (mungkin adanya). Secara rasional, keberadaan alam semesta yang baru dan berubah-ubah ini (huduth al-alam) mustahil terjadi dengan sendirinya tanpa adanya pencipta yang wajib wujud-Nya. Jika pencipta itu sendiri bersifat mungkin, maka akan terjadi lingkaran setan tanpa ujung (daur) atau kemunduran tanpa batas (tasalsul), yang keduanya secara logika akal sehat adalah mustahil.

Setelah menetapkan wujud-Nya, akal manusia dituntun untuk menafikan segala kekurangan yang tidak layak bagi keagungan Allah Swt. Di sinilah para ulama merumuskan Sifat Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang berfungsi untuk menolak atau menafikan hal-hal yang bertentangan dengan kesempurnaan Allah. Di antara sifat salbiyah yang sangat krusial adalah Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Kedua sifat ini memastikan bahwa eksistensi Allah tidak terikat oleh dimensi waktu yang merupakan makhluk ciptaan-Nya.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. وَقَالَ الْإِمَامُ إِبْرَاهِيمُ اللَّقَانِيُّ