Mengakses pemahaman murni mengenai hakikat Ketuhanan merupakan pilar utama dalam epistemologi Islam. Para ulama mazhab al-Asy'ari dan al-Maturidi telah merumuskan kodifikasi ilmu akidah yang sistematis untuk menjaga kemurnian tauhid dari penyimpangan antropomorfisme (tasybih/tajsim) serta pemikiran agnostisisme atau peniadaan sifat (ta'til). Kewajiban pertama bagi setiap mukallaf adalah ma'rifatullah, yaitu mengenal Allah SWT melalui argumentasi akal yang sehat ('aql) dan ditopang oleh petunjuk wahyu (naql). Dalam struktur disiplin Ilmu Kalam, pengenalan terhadap sifat-sifat yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah SWT bukanlah sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah proses pembuktian rasional-religius yang mengukuhkan posisi manusia sebagai hamba di hadapan Sang Pencipta yang Maha Agung. Sifat wajib didefinisikan sebagai segala sifat kesempurnaan yang secara akal tidak dapat diterima ketiadaannya bagi zat Allah SWT.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. وَيَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى أَرْبَعُونَ صِفَةً، مِنْهَا عِشْرُونَ وَاجِبَةً، وَعِشْرُونَ مُسْتَحِيلَةً، وَوَاحِدَةٌ جَائِزَةٌ. فَأَوَّلُ الْوَاجِبَاتِ مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى بِالدَّلِيلِ.
Terjemahan dan Syarah Akidah:
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS. Ash-Shura: 11). Dan wajib bagi hak Allah Ta'ala sifat-sifat kesempurnaan, yang di antaranya terangkum dalam dua puluh sifat yang wajib, dua puluh sifat yang mustahil, dan satu sifat yang jaiz. Maka kewajiban paling utama adalah mengenal Allah Ta'ala dengan dalil."
Syarah Mufassir dan Muhaddith:
Ayat di atas merupakan kaidah fundamental dalam diskursus penyucian Allah (Tanzih). Para ulama mutakallimin menjadikan frasa Laysa Kamithlihi Syai'un sebagai prinsip hakim (mencegah tasybih) dan frasa Wa Huwa Al-Sami'u Al-Basir sebagai pengukuh sifat (mencegah ta'til). Syekh Muhammad al-Sanusi dalam muqaddimah Umm al-Barahin menegaskan bahwa fondasi ma'rifah diawali dengan mengartikulasikan sifat-sifat Ketuhanan secara konseptual. Pengelompokan sifat wajib menjadi 20 sifat bukanlah batasan terhadap kesempurnaan Allah yang sesungguhnya tak terbatas, melainkan batasan minimal yang wajib diketahui oleh akal manusia (ma yajib 'ala al-mukallaf ma'rifatuhu). Pengetahuan ini berfungsi sebagai benteng epistemologis agar seorang muslim tidak terjebak dalam pembayangan bentuk (taswir) atau penyerupaan zat Allah dengan makhluk-Nya.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. فَالْقِدَمُ نَفْيُ الْبِدَايَةِ لِوُجُودِهِ تَعَالَى، وَالْبَقَاءُ نَفْيُ النِّهَايَةِ لِوُجُودِهِ تَعَالَى، وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ نَفْيُ الْمُمَاثَلَةِ لِلْكَائِنَاتِ.
Terjemahan dan Syarah Akidah:
"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadid: 3). Maka sifat Qidam adalah peniadaan permulaan bagi keberadaan Allah Ta'ala, sifat Baqa adalah peniadaan pemungkas/akhir bagi keberadaan-Nya, dan sifat Mukhalafatu lil-Hawadithi adalah peniadaan keserupaan dengan seluruh alam semesta."

