Ibadah shalat merupakan tiang agama sekaligus sarana komunikasi spiritual tertinggi antara seorang hamba dengan Sang Khalik. Namun, esensi dari shalat bukan sekadar penggugur kewajiban atau gerakan fisik formalitas belaka. Ruh dari shalat terletak pada kekhusyukan yang dihadirkan di dalam hati, yang kemudian memancar melalui ketenangan seluruh anggota tubuh. Tanpa khusyu, shalat bagaikan jasad yang tidak memiliki nyawa. Para ulama salaf terdahulu sangat menekankan bahwa kualitas hidup seorang muslim sangat dipengaruhi oleh kualitas khusyu dalam shalatnya. Oleh karena itu, memahami dimensi teologis, psikologis, dan praktis dari khusyu merupakan kebutuhan mutlak bagi setiap individu mukmin yang mendambakan keselamatan di dunia dan akhirat.
Pembahasan mengenai khusyu tidak dapat dipisahkan dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-Mu'minun yang menempatkan khusyu sebagai syarat mutlak keberuntungan dan

