Pernah gak sih kamu lagi asyik scrolling TikTok atau Instagram, tiba-tiba dada terasa sesak? Di layar HP, kamu melihat teman seangkatan sudah beli mobil baru, ada yang jalan-jalan ke luar negeri, atau pamer foto nikahan yang estetik. Seketika itu juga, pikiran kamu langsung traveling ke mana-mana. Muncul pertanyaan, Kok hidupku gini-gini aja ya? Fenomena ini biasa kita sebut FOMO alias Fear of Missing Out, yang kalau dibiarkan terus-menerus bisa bikin kesehatan mental kita drop dan berujung pada overthinking akut. Sebagai generasi Muslim muda yang hidup di era gempuran digital, kita butuh filter mental yang kuat biar gak gampang rapuh.
Poin 1: Menjinakkan FOMO dengan Menemukan Ketenangan Sejati
Media sosial sering kali menampilkan versi terbaik dari hidup seseorang, bukan realitas seutuhnya. Saat kita terjebak dalam pusaran perbandingan sosial, obat paling mujarab adalah menarik diri sejenak dan mengembalikan fokus kita kepada Sang Pencipta. Self-healing terbaik bagi seorang Muslim bukanlah liburan mahal yang menguras dompet, melainkan mengistirahatkan jiwa dalam mengingat Allah. Ketika hatimu mulai gelisah melihat pencapaian orang lain, cobalah ambil napas dalam-dalam dan resapi ayat ini:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra'd: 28).
Mengingat Allah atau dzikir bisa menjadi bentuk grounding technique yang sangat efektif. Saat kamu merasa tertinggal, ucapkan Alhamdulillah untuk hal-hal kecil yang kamu miliki hari ini. Latihan bersyukur ini secara ilmiah terbukti bisa menurunkan hormon stres dan membuat kita lebih menghargai proses hidup kita sendiri tanpa perlu membandingkannya dengan timeline orang lain.
Poin 2: Menghalau Overthinking Lewat Doa Anti-Anxiety
Cemas akan masa depan adalah makanan sehari-hari Gen Z dan Millennial. Kita sering cemas soal karir, jodoh, hingga finansial. Namun, terus-menerus mengkhawatirkan hal yang belum terjadi hanya akan menguras energi yang kita miliki sekarang. Rasulullah SAW sangat memahami bahwa manusia rentan terkena penyakit mental berupa kecemasan dan kesedihan. Oleh karena itu, beliau mengajarkan sebuah doa yang sangat relate untuk kita amalkan setiap pagi dan petang sebagai tameng pelindung mental kita:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ

