Halo Sobat Muslim! Pernah nggak sih kalian lagi asik scrolling TikTok atau Instagram jam dua pagi, terus tiba-tiba merasa hidup kalian stuck di situ-situ aja? Lihat teman sebaya udah pamer pencapaian kerja, jalan-jalan ke luar negeri, atau posting foto wedding yang estetik banget. Perasaan ini sering kita sebut FOMO atau Fear of Missing Out. Rasanya kayak kita lagi lari di tempat sementara orang lain udah sampai garis finish. Kondisi ini kalau dibiarkan bisa bikin kesehatan mental kita keganggu dan bikin kita lupa buat bersyukur.
Jangan langsung overthinking dan merasa gagal dulu ya. Islam mengajarkan kita kalau setiap orang itu punya garis start dan finish yang beda-beda. Tekanan mental karena standar sosial itu nyata, tapi Allah nggak pernah kasih ujian yang kita nggak sanggup buat hadapi. Ingat pesan cinta dari Allah yang sangat menenangkan ini:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Jadi, kalau hari ini kamu merasa beban hidup lagi berat banget karena tuntutan lingkungan, itu tandanya kamu sebenarnya punya kapasitas besar buat melewatinya. Jangan biarkan standar sukses versi orang lain jadi beban di pundakmu sendiri. Setiap orang punya timeline-nya masing-masing yang sudah diatur dengan sangat presisi oleh-Nya.
Kadang kita terlalu fokus sama apa yang nggak kita punya sampai lupa kalau setiap kesulitan itu sebenarnya satu paket sama kemudahan. Di balik postingan estetik yang kamu lihat di feed orang lain, pasti ada perjuangan berdarah-darah yang nggak mereka upload. Kita perlu belajar seni JOMO atau Joy of Missing Out, yaitu merasa cukup dan bahagia dengan apa yang ada di depan mata tanpa perlu merasa iri dengan hidup orang lain. Yakinlah kalau setiap badai pasti akan berlalu dan ada pelangi setelahnya.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Percaya deh, plot twist terbaik dalam hidupmu sudah disiapkan sama Sang Pencipta. Fokus aja buat perbaiki diri pelan-pelan dan nikmati prosesnya tanpa harus terus-terusan membandingkan diri. Self-healing terbaik itu bukan cuma jalan-jalan, tapi mendekatkan frekuensi hati kita sama pemilik ketenangan itu sendiri.

