Sistem teologi Islam, khususnya dalam rumusan mazhab Ahlussunnah wal Jama'ah yang dipelopori oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, meletakkan pemahaman terhadap sifat-sifat Allah Swt sebagai fondasi utama keimanan. Mengenal sifat wajib bagi Allah Swt bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah proses epistemologis yang memadukan ketajaman wahyu (dalil naqli) dengan kejernihan akal sehat (dalil aqli). Para ulama memformulasikan dua puluh sifat wajib ini untuk membentengi umat dari dua ekstremitas pemikiran yang menyesatkan: tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (meniadakan sifat-sifat Allah). Melalui kajian yang mendalam, kita akan melihat bagaimana setiap sifat wajib tersebut tegak di atas argumentasi teks suci yang kokoh serta logika eksistensial yang tidak terbantahkan.
[TEKS ARAB BLOK 1]
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]
Terjemahan: Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung.
Syarah dan Tafsir: Ayat yang dikenal sebagai Ayat Kursi ini merupakan manifestasi paling komprehensif dari Sifat Nafsiyah (Wujud) dan Sifat Salbiyah (Qidam, Baqa, Mukhalafatu lil Hawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, Wahdaniyah). Ketika Allah Swt menyatakan diri-Nya sebagai Al-Hayyu (Yang Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Yang Maha Mandiri), Al-Quran sedang menetapkan bahwa eksistensi Allah adalah mutlak, tidak berawal, dan tidak berakhir. Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa sifat Al-Qayyum mengindikasikan kemandirian mutlak Allah Swt yang tidak membutuhkan penopang, ruang, waktu, atau pencipta lain. Secara logika aqli, jika Allah membutuhkan pencipta lain, maka akan terjadi lingkaran setan penciptaan (dawar) atau rantai pencipta tanpa batas (tasalsul), yang keduanya mustahil secara akal. Oleh karena itu, sifat Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri) adalah keniscayaan logis bagi zat yang berstatus sebagai Prima Causa atau Pencipta Pertama.
[TEKS ARAB BLOK 2]
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2]

