Fondasi utama dalam seluruh bangunan syariat Islam adalah makrifatullah, yaitu mengenal Allah Swt dengan pengenalan yang berbasis pada keyakinan yang pasti, terbebas dari keraguan, taklid, maupun syubhat. Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya teologi Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansyur al-Maturidi, pengenalan terhadap Sang Pencipta disistematisasikan melalui kajian sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi-Nya. Formulasi dua puluh sifat wajib bagi Allah Swt bukanlah sebuah pembatasan terhadap kesempurnaan-Nya yang tidak terbatas, melainkan sebuah metodologi epistemologis yang dirancang untuk menjaga kemurnian tauhid dari dua ekstremitas kesesatan: tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (meniadakan sifat-sifat Allah). Kajian ini akan membedah secara mendalam dimensi teologis, tafsir, dan rasionalitas dari sifat-sifat tersebut melalui lima poros utama.

PARAGRAF PENJELASAN BLOK 1: EKSISTENSI MUTLAK (SIFAT NAFSIYYAH - AL-WUJUD)

Dalam Artikel

Sifat pertama dan paling mendasar dalam kajian akidah adalah Al-Wujud (Keberadaan). Sifat ini dikategorikan sebagai sifat nafsiyyah, yaitu sifat yang secara konseptual tidak dapat dipisahkan dari zat itu sendiri. Keberadaan Allah Swt bersifat wajib al-wujud (pasti adanya), berbeda dengan keberadaan makhluk yang bersifat mumkin al-wujud (boleh ada dan boleh tiada). Secara rasional, keberadaan alam semesta yang teratur ini merupakan dalil huduth (kebaharuan) yang menuntut adanya pencipta yang bersifat qadim (terdahulu). Secara tekstual, Al-Quran menegaskan hakikat penciptaan ini sebagai bukti nyata atas eksistensi-Nya yang mutlak.

TEKS ARAB BLOK 1:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

TERJEMAHAN DAN TAFSIR MENDALAM BLOK 1:

Terjemahan: Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Surah As-Sajdah, Ayat 4).

Syarah dan Tafsir:

Dalam ayat ini, Allah Swt menegaskan eksistensi-Nya melalui tindakan penciptaan (al-khalq) terhadap makrokosmos yang meliputi langit, bumi, dan segala entitas di antaranya. Penggunaan frasa "khalaqa" (menciptakan) secara teologis membuktikan adanya peralihan dari ketiadaan (al-adam) menuju keberadaan (al-wujud). Transisi ini secara logika mustahil terjadi dengan sendirinya tanpa adanya penggerak utama yang tidak membutuhkan pencipta lain. Para mufassir menjelaskan bahwa penyebutan "fi sittati ayyam" (dalam enam masa) menunjukkan adanya rancangan yang sistematis, yang membuktikan bahwa penciptaan ini didasarkan pada ilmu dan kehendak dari Zat yang Maha Ada. Adapun lafaz "istawa ala al-arsy" dipahami oleh ulama khalaf dengan metode takwil yang layak bagi keagungan Allah, yaitu sebagai simbol kekuasaan dan kendali mutlak atas seluruh eksistensi, sekaligus menegaskan bahwa eksistensi-Nya tidak terikat oleh ruang dan waktu yang merupakan makhluk ciptaan-Nya.