Dalam diskursus teologi Islam atau Ilm al-Kalam, kajian mengenai ketuhanan merupakan fondasi utama yang menentukan validitas seluruh bangunan keagamaan seseorang. Para ulama Ahlussunnah wal Jama'ah, khususnya mazhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah melakukan kodifikasi yang sangat sistematis mengenai sifat-sifat yang wajib disematkan kepada Zat Allah Swt. Kodifikasi ini dikenal luas dengan rumusan Sifat Dua Puluh. Pengenalan terhadap sifat-sifat ini bukanlah sekadar doktrin dogmatis tanpa dasar, melainkan sebuah konklusi ilmiah yang dibangun di atas integrasi harmonis antara dalil naqli yang bersumber dari wahyu dan dalil aqli yang bersumber dari nalar logis yang sehat. Para mutakallimin (teolog Muslim) menegaskan bahwa makrifatullah (mengenal Allah) secara benar menuntut pemahaman bahwa Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang mutlak, dan mustahil bagi-Nya memiliki sifat kekurangan atau keterbatasan.
Untuk memahami bagaimana para ulama merumuskan sifat-sifat tersebut, kita harus menelaah landasan-landasan epistemologis yang bersumber langsung dari teks-teks otoritatif Al-Quran dan Sunnah, yang kemudian dianalisis dengan pisau analisis logika teologis. Berikut adalah bedah ilmiah mengenai sifat-sifat wajib bagi Allah Swt yang dikelompokkan dalam kategori sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah.
[BLOK BILINGUAL 1: EKSISTENSI DAN KEBERADAAN TANPA AWAL (Wujûd dan Qidâm)]
Dalam menetapkan sifat wajib yang pertama dan kedua, yaitu Wujud (Ada) dan Qidam (Terdahulu/Tanpa Permulaan), para ulama kalam mengemukakan bahwa alam semesta ini berstatus mumkin al-wujud (mungkin ada dan mungkin tiada). Keberadaan alam semesta yang bersifat baru ini secara logis membutuhkan adanya pencipta yang bersifat Wajib al-Wujud (Wajib Adanya) dan tidak didahului oleh ketiadaan. Jika pencipta tersebut juga baru, maka akan terjadi lingkaran setan tanpa ujung (daur) atau rantai sebab-akibat tanpa awal yang mustahil secara rasional (tasalsul). Oleh karena itu, Allah wajib bersifat Wujud dan Qidam.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Surah Al-Hadid: 3)
Syarah dan Tafsir Mendalam:
Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa nama Al-Awwal dalam ayat ini merupakan dalil naqli yang paling tegas mengenai sifat Qidam bagi Allah Swt. Makna Al-Awwal di sini adalah keberadaan Allah yang mendahului segala sesuatu tanpa ada titik permulaan bagi eksistensi-Nya. Berbeda dengan makhluk yang keberadaannya diawali dari tiada menjadi ada melalui proses penciptaan, eksistensi Allah adalah mutlak dan mandiri. Para ulama ushuluddin menegaskan bahwa sifat Qidam ini dikategorikan sebagai sifat Salbiyah, yaitu sifat yang berfungsi untuk menafikan atau menolak hal-hal yang tidak layak bagi Allah. Dalam konteks Qidam, sifat ini menafikan sifat huduth (kebaruan) dan menafikan adanya permulaan bagi keberadaan Zat Allah Swt. Dengan demikian, akal sehat dipaksa tunduk pada kesimpulan bahwa pencipta alam semesta ini haruslah entitas yang paling awal tanpa ada yang mendahului-Nya.
[BLOK BILINGUAL 2: TRANSENDENSI MUTLAK ATAS MAKHLUK (Mukhâlafatu lil-Hawâdithi)]

