Sistem teologi Islam, khususnya dalam mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dirumuskan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, meletakkan pengenalan terhadap sifat-sifat Allah Swt sebagai fondasi utama keimanan. Pengetahuan ini bukan sekadar doktrin hafalan, melainkan sebuah perangkat epistemologis untuk memahami relasi antara Khalik dan makhluk. Para ulama mutakallimin membagi sifat-sifat wajib bagi Allah ke dalam empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Melalui metodologi integratif yang menggabungkan dalil naqli (teks wahyu) dan dalil aqli (rasionalitas murni), kajian ini akan membedah secara mendalam hakikat sifat-sifat tersebut guna membersihkan pemahaman umat dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta'thil (penafian sifat).

[PARAGRAF PENJELASAN INDONESIA BLOK 1]

Dalam Artikel

Keberadaan Allah Swt merupakan fondasi utama dari seluruh bangunan akidah Islam. Sifat Wujud ini dikategorikan sebagai sifat nafsiyah, yaitu sifat yang merujuk pada zat Allah tanpa adanya tambahan di luar zat tersebut. Secara rasional, eksistensi alam semesta yang bersifat baru (hadits) dan penuh keteraturan ini mustahil terwujud tanpa adanya Pencipta yang bersifat Wajib al-Wujud (pasti adanya). Para ulama menggunakan argumen kosmologis (dalil huduts) untuk membuktikan bahwa setiap yang baru pasti membutuhkan pencipta yang mendahuluinya.

[TEKS ARAB BLOK 1]

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ

[TERJEMAHAN & TAFSIR MENDALAM BLOK 1]

Terjemahan: Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti dengan makhluk yang baru. (Surah Ibrahim: 19)

Syarah dan Tafsir:

Dalam ayat ini, redaksi "bi al-haqq" (dengan hak) menunjukkan bahwa penciptaan alam semesta bukanlah suatu kebetulan yang hampa, melainkan sebuah desain agung yang penuh hikmah dan tujuan. Secara teologis, keteraturan makrokosmos ini menjadi bukti tak terbantahkan atas Wujud Allah Swt. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa penciptaan langit dan bumi dengan segala kompleksitasnya menuntut adanya pencipta yang memiliki kehendak bebas (Iradah) dan kekuasaan mutlak (Qudrah). Keberadaan alam ini adalah mungkin al-wujud (boleh ada dan boleh tiada), dan transisi dari tiada menjadi ada memerlukan penentu (mukhassis) yang bersifat Wajib al-Wujud, yaitu Allah Swt.