Dalam diskursus teologi Islam (Ilmu Kalam), pemahaman terhadap eksistensi dan esensi Allah Swt merupakan fondasi utama yang menentukan validitas seluruh bangunan keagamaan seorang Muslim. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya madzhab Asy'ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan metodologi yang sangat sistematis untuk memahami sifat-sifat Allah Swt. Formulasi ini tidak bermaksud membatasi kesempurnaan Allah yang tanpa batas, melainkan berfungsi sebagai panduan epistemologis bagi akal manusia agar terhindar dari dua jurang ekstrem: ta'thil (menafikan sifat-sifat Tuhan) dan tasybih atau tajsim (menyerupakan Tuhan dengan makhluk). Kajian ini akan membedah secara mendalam lima sifat wajib yang menjadi pilar utama teologi Islam, dengan memadukan pendekatan tekstual (naqli) dan rasional (aqli).
Sifat pertama yang wajib dipahami adalah Wujud (Ada). Secara metodologis, para teolog Muslim membagi wujud menjadi dua kategori utama: Wajib al-Wujud (eksistensi yang mutlak ada dan tidak didahului oleh tiada) serta Mumkin al-Wujud (eksistensi yang keberadaannya bergantung pada yang lain). Keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) dan terus berubah merupakan bukti rasional paling nyata bahwa ada Penggerak Pertama yang tidak berawal, yang menghendaki penciptaan alam ini dari ketiadaan menjadi ada.
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ
Terjemahan: Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (QS. At-Tur: 35-36)
Syarah dan Tafsir Mendalam:
Dalam ayat ini, Allah Swt mengajukan pertanyaan retoris yang menghancurkan argumentasi ateisme dan kebetulan kosmis. Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung argumentasi logis yang sangat ketat (sabar wa taqsim). Secara akal, hanya ada tiga probabilitas mengenai asal-usul penciptaan manusia dan alam semesta: pertama, mereka tercipta dari ketiadaan tanpa adanya pencipta (nihilisme); kedua, mereka menciptakan diri mereka sendiri (sebuah kontradiksi logis karena sesuatu yang belum ada tidak bisa bertindak); atau ketiga, ada Pencipta eksternal yang Maha Kuasa. Ketika probabilitas pertama dan kedua secara rasional mustahil, maka secara mutlak probabilitas ketigalah yang benar, yaitu adanya Allah Swt sebagai Wajib al-Wujud yang menciptakan segala sesuatu.
Setelah menetapkan sifat Wujud, akal secara keniscayaan teologis harus menetapkan bahwa eksistensi Allah Swt tidak didahului oleh ketiadaan (Qidam/Terdahulu) dan tidak akan diakhiri oleh kepunahan (Baqa'/Kekal). Jika Allah Swt didahului oleh ketiadaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain, yang akan menjebak pemikiran pada lingkaran setan tanpa ujung (tasalsul) atau rotasi sebab-akibat yang mustahil (daur). Oleh karena itu, sifat Qidam dan Baqa' adalah konsekuensi logis dari status-Nya sebagai Pencipta Pertama yang mandiri.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3)

