Sistem teologi Islam atau yang akrab dikenal sebagai Ilmu Kalam memiliki kedudukan yang sangat vital dalam menjaga kemurnian akidah seorang Muslim. Di antara sekian banyak formulasi metodologis yang dirumuskan oleh para ulama madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, khususnya faksi Asy-Sya'irah dan Al-Maturidiyyah, sistematika Sifat Dua Puluh merupakan rumusan yang paling representatif, sistematis, dan mudah dipahami oleh berbagai lapisan umat. Sifat-sifat ini diklasifikasikan menjadi empat kategori utama, yaitu sifat Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyyah. Memahami sifat-sifat wajib bagi Allah bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah proses makrifatullah yang memadukan antara wahyu yang suci (dalil naqli) dan argumentasi akal sehat yang lurus (dalil aqli). Melalui pemahaman yang mendalam ini, seorang hamba akan terhindar dari dua jurang kesesatan ekstrem, yaitu ta'thil (menafikan sifat-sifat Allah) dan tasybih atau tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).

TEKS ARAB BLOK 1

Dalam Artikel

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:

Artinya: Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Milik-Nyalah kunci-kunci langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Az-Zumar: 62-63)

Syarah dan Tafsir:

Pembahasan pertama dalam teologi Islam dimulai dengan sifat Nafsiyyah, yaitu sifat yang menunjukkan esensi Dzat tanpa adanya tambahan pada Dzat tersebut. Sifat ini diwakili secara tunggal oleh sifat Wujud (Ada). Keberadaan Allah Swt adalah sebuah keniscayaan mutlak yang mendahului segala sesuatu. Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa wujud-Nya Allah adalah wujud yang hakiki (Wajib al-Wujud), sedangkan wujud makhluk adalah wujud majazi yang bergantung sepenuhnya pada penciptaan-Nya. Berdasarkan ayat di atas, eksistensi Allah dibuktikan melalui peran-Nya sebagai Al-Khaliq (Maha Pencipta). Secara epistemologis, akal sehat manusia tidak akan menerima adanya sebuah keteraturan alam semesta tanpa adanya pencipta yang mengaturnya. Argumen kosmologis ini, yang sering disebut dalil huduts oleh para mutakallimin, menegaskan bahwa setiap yang baru (hadits) pasti membutuhkan pencipta (muhdits) yang bersifat qadim.

TEKS ARAB BLOK 2

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ