Eksistensi manusia di alam semesta bukanlah sebuah kebetulan biologis maupun peristiwa tanpa makna. Dalam diskursus teologi Islam, pertanyaan mengenai tujuan hidup merupakan fondasi utama yang menentukan seluruh struktur hukum (fiqih) dan keyakinan (akidah). Para ulama salaf maupun khalaf telah bersepakat bahwa orientasi tunggal dari penciptaan jin dan manusia adalah penghambaan yang murni kepada Sang Khaliq. Pemahaman ini bukan sekadar doktrin dogmatis, melainkan sebuah realitas ontologis yang didukung oleh teks-teks wahyu yang qath’i. Untuk memahami kedalaman makna ibadah, kita harus merujuk pada teks utama dalam Al-Quran yang menjadi poros pembahasan ini.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna Liyabudun dalam ayat ini adalah agar mereka tunduk kepada-Ku, baik secara sukarela maupun terpaksa. Namun, secara lebih spesifik, para ahli tafsir seperti Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menafsirkan Liyabudun dengan Liyuwahhidun, yang berarti untuk mentauhidkan-Ku. Ini menunjukkan bahwa inti dari ibadah adalah pengesaan Allah dalam segala aspek kehidupan. Ayat ini juga menegaskan kemandirian Allah (Al-Ghani) yang tidak membutuhkan kontribusi makhluk-Nya, justru makhluklah yang senantiasa bergantung pada rahmat dan rezeki-Nya.
Setelah memahami landasan Al-Quran, kita perlu meninjau bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan hak Allah atas hamba-Nya. Hal ini terekam dalam dialog mendalam antara Nabi dengan sahabat Mu’adz bin Jabal yang mengandung prinsip dasar akidah Islamiyah.
يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah? Aku (Mu’adz) menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: Sesungguhnya hak Allah atas hamba-Nya adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan hak hamba atas Allah adalah Dia tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Hadis ini, yang diriwayatkan dalam Shahihain, merupakan pilar utama dalam memahami relasi antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Penggunaan kata Haqqullah (Hak Allah) menunjukkan kewajiban mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap mukallaf. Syarah hadis ini menekankan bahwa ibadah tidak akan diterima kecuali jika bersih dari noda syirik. Syirik dalam konteks ini mencakup syirik akbar yang mengeluarkan seseorang dari Islam, maupun syirik ashghar seperti riya yang merusak pahala amal.
Definisi ibadah sering kali disempitkan hanya pada ritual formal seperti shalat dan puasa. Namun, dalam tinjauan analitis para ulama, ibadah mencakup spektrum yang sangat luas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan definisi yang sangat komprehensif yang menjadi rujukan dalam memahami cakupan pengabdian kepada Allah.
الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ فَالصَّلَاةُ وَالزَّكَاةُ وَالصِّيَامُ وَالْحَجُّ وَصِدْقُ الْحَدِيثِ وَأَدَاءُ الْأَمَانَةِ وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ وَصِلَةُ الْأَرْحَامِ كُلُّ ذَلِكَ مِنَ الْعِبَادَةِ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam: Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Maka shalat, zakat, puasa, haji, kejujuran dalam berbicara, menunaikan amanah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturahmi, semua itu adalah bagian dari ibadah. Penjelasan ini merombak paradigma dikotomis antara dunia dan akhirat. Setiap aktivitas manusia, jika diniatkan untuk mencari ridha Allah dan sesuai dengan syariat, maka ia bertransformasi menjadi nilai ibadah. Inilah yang disebut dengan syumuliyatul ibadah (kesempurnaan ibadah). Dengan demikian, seorang profesional di kantornya, seorang ibu di rumahnya, maupun seorang penuntut ilmu di majelisnya, semuanya berada dalam koridor ibadah selama mereka menjaga batasan-batasan Allah.

