Ilmu akidah dan tasawuf syar’i memiliki titik temu yang sangat fundamental dalam konsep Ihsan. Sebagai pilar ketiga dalam bangunan agama setelah Islam dan Iman, Ihsan menuntut seorang hamba untuk mencapai derajat musyahadah atau muraqabah. Dalam diskursus keilmuan Islam, pencapaian spiritual ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah realitas keimanan yang berpijak pada teks-teks wahyu yang qath’i. Para ulama salaf telah merumuskan bahwa kedudukan Ihsan adalah puncak dari penghambaan, di mana seorang mukmin beribadah dengan kesadaran penuh akan kehadiran Khalik secara batiniah.

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Dalam Artikel

Terjemahan dan Syarah: Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, namun jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu (Hadits Riwayat Muslim). Syarah: Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua tingkatan utama dalam beragama. Pertama adalah maqam musyahadah, yaitu tingkatan di mana hati seseorang dipenuhi oleh cahaya ma’rifat sehingga seolah-olah ia menyaksikan keagungan Allah secara langsung dengan mata hatinya. Kedua adalah maqam muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya. Tingkatan kedua ini merupakan solusi praktis bagi mereka yang belum mencapai puncak kemanisan iman pada tingkatan pertama, agar tetap terjaga dalam koridor syariat.

Mengenai kemungkinan melihat Allah secara langsung, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah bersepakat bahwa hal tersebut merupakan kenikmatan tertinggi bagi penduduk surga kelak di akhirat. Hal ini ditegaskan dalam Al-Quran melalui gambaran wajah-wajah yang berseri karena mendapatkan anugerah agung tersebut.

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Terjemahan dan Tafsir: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat (Surah Al-Qiyamah: 22-23). Tafsir: Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata nadhirah yang pertama berarti wajah yang penuh dengan keindahan, keceriaan, dan cahaya karena mendapatkan limpahan rahmat. Sedangkan kata nadhirah yang kedua, yang dirangkaikan dengan huruf jar ila, secara linguistik dalam kaidah bahasa Arab berarti melihat dengan mata kepala (ru’yah al-bashar). Ini merupakan hujah yang sangat kuat untuk membantah pendapat golongan Mu’tazilah yang menafikan kemungkinan melihat Allah di akhirat. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menyatakan bahwa penduduk surga akan melihat Dzat Allah yang Maha Mulia tanpa ada keraguan sedikit pun sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

Meskipun di akhirat Allah dapat dilihat oleh orang-orang beriman, namun di dunia ini fisik manusia yang terbatas tidak akan sanggup menanggung keagungan Dzat-Nya. Hal ini terpotret dengan jelas dalam peristiwa permintaan Nabi Musa Alaihissalam yang ingin melihat Allah secara langsung saat bermunajat di Bukit Sinai.

قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا

Terjemahan dan Tafsir: Musa berkata: Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat kepada-Mu. Allah berfirman: Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan (Surah Al-A'raf: 143). Tafsir: Imam Al-Qurthubi menjelaskan dalam kitab Al-Jami' li Ahkam Al-Quran bahwa kata lan tarani (kamu tidak akan melihat-Ku) dalam ayat ini merujuk pada ketidaksanggupan manusia di alam dunia yang fana untuk memandang Dzat Allah. Gunung yang merupakan benda mati yang begitu kokoh saja hancur lebur saat Allah menampakkan sedikit saja dari cahaya keagungan-Nya. Ini menunjukkan bahwa penglihatan di dunia dibatasi oleh hukum fisika alam malakut yang berbeda dengan alam akhirat yang bersifat kekal (baqa), di mana Allah akan memberikan kekuatan tambahan bagi mata orang beriman untuk memandang-Nya.