Dalam diskursus teologi Islam (Ilmu Kalam), pembahasan mengenai sifat-sifat Allah Swt merupakan pilar utama yang menentukan validitas keimanan seorang mukmin. Mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah, khususnya melalui formulasi imam besar Abu al-Hasan al-Asy'ari dan Abu Mansur al-Maturidi, merumuskan metodologi sistematis untuk memahami zat dan sifat Allah guna menghindari dua ekstremitas pemikiran: tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan ta'thil (meniadakan sifat-sifat Allah). Para ulama mengklasifikasikan sifat-sifat wajib bagi Allah menjadi empat kategori utama, yaitu sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Pendekatan ini tidak hanya bersandar pada teks-teks wahyu (dalil naqli) yang mutawatir, melainkan juga diperkuat oleh argumentasi rasional (dalil aqli) yang kokoh untuk mematahkan argumen kaum ateis dan skeptis. Melalui pemahaman yang komprehensif terhadap sifat-sifat ini, seorang muslim dapat membangun fondasi makrifatullah (mengenal Allah) yang murni, kokoh, dan terhindar dari syubhat pemikiran modern.
[TEKS ARAB BLOK 1]
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ
[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1]
Terjemahan: Apakah mereka diciptakan tanpa ada sesuatu pun yang menciptakan mereka, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (Surah At-Tur Ayat 35-36)
Syarah Teologis: Ayat ini merupakan landasan epistemologis dalam membuktikan sifat wajib yang pertama bagi Allah Swt, yaitu Wujud (Ada). Sifat ini dikategorikan sebagai sifat Nafsiyah, yaitu sifat yang menunjukkan eksistensi zat Allah tanpa adanya tambahan pada zat tersebut. Dalam metode aqliyah yang dikembangkan para mutakallimun (ahli kalam), ayat di atas menyajikan sebuah dilema logis yang tidak terbantahkan bagi akal sehat manusia. Secara rasional, keberadaan alam semesta yang bersifat baru (hadits) menghendaki adanya pencipta (muhdits) yang bersifat terdahulu (qadim). Hukum kausalitas menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada dari ketiadaan pasti membutuhkan sebab eksternal yang mewujudkannya. Pilihan bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan tanpa pencipta adalah kemustahilan akal (muhal). Demikian pula pilihan bahwa makhluk menciptakan dirinya sendiri adalah kontradiksi logis yang nyata, karena sesuatu yang belum ada tidak mungkin bertindak sebagai agen penciptaan. Oleh karena itu, secara mutlak akal sehat harus menerima kesimpulan bahwa ada satu Zat Yang Maha Ada, yang eksistensi-Nya bersifat wajib (Wajib al-Wujud), yaitu Allah Swt.
[TEKS ARAB BLOK 2]
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
[Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2]

