Peradaban modern dengan segala ekses disrupsi teknologi, materialisme, dan sekularisme telah menggeser banyak tatanan nilai dasar kehidupan manusia. Dalam lanskap sosio-religius hari ini, tantangan terbesar seorang Muslim tidak lagi terbatas pada bentuk-bentuk penyembahan berhala secara fisik sebagaimana masyarakat jahiliyah klasik, melainkan bergeser pada bentuk perbudakan spiritual yang jauh lebih halus. Kehidupan modern secara tidak sadar sering menempatkan materi, rasionalisme mutlak, status sosial, serta hawa nafsu sebagai entitas yang dipertuhankan. Oleh karena itu, menegakkan tauhid bukan sekadar pengakuan dogmatis di dalam hati, melainkan sebuah epistemologi dan asas eksistensial yang membebaskan jiwa manusia dari ikatan entitas-entitas fana. Tauhid adalah pondasi utama yang menentukan sah atau tidaknya seluruh bangunan amal perbuatan manusia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Terjemahan dan Syarah/Tafsir:
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat untuk menyerukan: Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut. Kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang telah dipastikan kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul. (Al-Quran, Surah An-Nahl: 36).
Secara analitis, ayat ini menegaskan bahwa misi utama seluruh risalah kenabian sepanjang sejarah adalah penegakan tauhid dan penyucian jiwa dari Thaghut. Imam Ibn Kathir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa Thaghut mencakup segala sesuatu yang disembah, dipertuhankan, atau diandalkan selain Allah secara sukarela. Dalam konteks modern, Thaghut tidak hanya berwujud patung batu, melainkan merujuk pada ideologi-ideologi sekular yang meniadakan peran Ilahi, sistem ekonomi hedonistik, serta ketergantungan absolut pada kekuatan materi. Perintah untuk menjauhi Thaghut dalam ayat ini menggunakan fi'il amr (kata kerja perintah) yang menuntut keaktifan seorang Muslim untuk menyaring dan menolak secara tegas segala bentuk penyimpangan akidah yang dikemas dalam bentuk gaya hidup modern.
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ ، وَعَبْدُ الْخَمِيْلَةِ ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ
Terjemahan dan Syarah/Tafsir:
Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian hitam bergaris, dan hamba pakaian beludru. Jika ia diberi maka ia ridha, dan jika tidak diberi maka ia murka. Celakalah dia dan tersungkurlah dia, dan apabila dia tertusuk duri, semoga tidak dapat dicabut. (Hadits Riwayat Al-Bukhari).
Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam dalam hadits ini memberikan pembedahan psikologis yang sangat tajam mengenai konsep perbudakan materi. Al-Hafiz Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa penggunaan frasa "hamba dinar" merujuk pada keadaan seseorang yang menjadikan harta benda sebagai orientasi tertinggi dalam hidupnya. Keterikatan emosional dan spiritual yang berlebihan terhadap simbol-simbol kekayaan, kemewahan, dan konsumerisme modern dapat menurunkan derajat manusia dari hamba Allah menjadi hamba materi. Kriteria perbudakan ini terlihat ketika tingkat keridhaan dan kemarahan seseorang ditentukan sepenuhnya oleh keuntungan materi duniawi. Hal inilah yang mengikis kemurnian tauhid uluhiyyah, di mana kecintaan dan ketaatan mutlak yang seharusnya hanya dipersembahkan kepada Allah, beralih kepada aspek finansial dan komoditas.

