Dalam diskursus keilmuan Islam, pemahaman terhadap struktur agama yang terdiri dari Islam, Iman, dan Ihsan merupakan fondasi utama bagi setiap penuntut ilmu. Ihsan, sebagai tingkatan tertinggi dalam trilogi tersebut, bukan sekadar pelengkap, melainkan ruh yang menghidupkan setiap gerak lahiriah ibadah. Para ulama mufassir dan muhaddits sepakat bahwa tanpa Ihsan, sebuah peribadatan akan kehilangan esensi spiritualnya dan terjebak dalam formalitas fiqih semata. Artikel ini akan membedah secara mendalam dimensi Ihsan melalui pendekatan tekstual hadis dan korelasi ayat-ayat Al-Quran untuk merumuskan konsep muraqabah yang autentik.

Pondasi utama dalam memahami Ihsan merujuk pada dialog monumental antara Malaikat Jibril dan Rasulullah SAW di hadapan para sahabat. Definisi ini menjadi titik tolak bagi seluruh pembahasan tasawuf dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dalam tradisi intelektual Islam.

Dalam Artikel

قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Jibril bertanya: Beritahukanlah kepadaku tentang Ihsan. Rasulullah SAW menjawab: Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Secara semantik, kata Ihsan berasal dari akar kata husn yang berarti kebaikan atau keindahan. Dalam konteks hadis ini, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa terdapat dua tingkatan dalam Ihsan. Pertama adalah Maqam Musyahadah, yaitu kondisi di mana seorang hamba benar-benar menghadirkan keagungan Allah dalam hatinya seakan-akan ia melihat-Nya secara langsung dengan mata batin (bashirah). Kedua adalah Maqam Muraqabah, yakni kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik hamba-Nya. Jika seseorang belum mampu mencapai derajat musyahadah, maka ia wajib menetap pada derajat muraqabah agar ibadahnya tetap terjaga dari kelalaian.

Eksistensi Ihsan tidak dapat dipisahkan dari penyertaan Allah (Ma’iyyatullah) yang bersifat umum maupun khusus. Al-Quran menegaskan bahwa pengawasan Allah meliputi segala dimensi ruang dan waktu, yang menjadi landasan teologis bagi seorang Muhsin untuk senantiasa memperbaiki kualitas amalnya.

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

Terjemahan & Tafsir Mendalam: Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan. Ayat ini dalam Surah Al-Hadid memberikan penekanan pada konsep Ma’iyyah Ilahiyyah. Para mufassir menjelaskan bahwa kebersamaan Allah di sini adalah kebersamaan dalam hal ilmu, pengawasan, dan kekuasaan. Bagi seorang hamba yang memahami hakikat ini, ia akan merasa malu untuk melakukan kemaksiatan atau beribadah dengan hati yang lalai. Kesadaran akan kehadiran Allah (Al-Hadhrah al-Ilahiyyah) merupakan motor penggerak utama dalam mencapai keikhlasan yang murni, di mana pujian dan celaan manusia tidak lagi memiliki bobot dalam timbangan niatnya.

Dalam perspektif fiqih, Ihsan menuntut adanya itqan atau profesionalitas dalam beramal. Ibadah tidak hanya dinilai dari terpenuhinya syarat dan rukun secara lahiriah, tetapi juga bagaimana batin hamba tersebut terkoneksi sepenuhnya dengan Sang Khalik saat ritual tersebut ditegakkan.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا