Mengenal Allah Swt atau Ma’rifatullah merupakan fondasi utama dalam bangunan keimanan seorang Muslim. Tanpa pengenalan yang benar terhadap Sang Pencipta, seluruh amal ibadah akan kehilangan substansi spiritualnya. Para ulama kalam, khususnya dalam madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah merumuskan sistematisasi sifat-sifat Allah yang wajib diketahui oleh setiap mukallaf. Pengetahuan ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah pencapaian intelektual yang menggabungkan ketajaman akal (dalil aqli) dan otoritas wahyu (dalil naqli). Sifat-sifat ini diklasifikasikan menjadi empat kategori utama: Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah, yang secara keseluruhan menggambarkan kesempurnaan mutlak Allah Swt yang terbebas dari segala kekurangan.

فَأَوَّلُ مَا يَجِبُ عَلَى الْمُكَلَّفِ شَرْعًا مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى وَصِفَاتِهِ الْعَلِيَّةِ وَمَا يَسْتَحِيْلُ فِي حَقِّهِ مِنَ النَّقَائِصِ الْبَشَرِيَّةِ وَمَا يَجُوْزُ فِي حَقِّهِ مِنَ الْأَفْعَالِ الْمُمْكِنَةِ. وَمِنْ هَذِهِ الصِّفَاتِ الْوَاجِبَةِ صِفَةُ الْوُجُوْدِ وَهِيَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ لَا يُتَصَوَّرُ الذَّاتُ الْعَلِيَّةُ بِدُوْنِهَا. وَالدَّلِيْلُ عَلَى وُجُوْدِهِ تَعَالَى هُوَ وُجُوْدُ هَذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ وَتَرْتِيْبُهَا الْبَدِيْعُ الَّذِي يَسْتَحِيْلُ عَقْلًا أَنْ يَكُوْنَ نَتِيْجَةَ الصُّدْفَةِ أَوْ لَا مُوجِدَ لَهَا.

Dalam Artikel

Terjemahan & Syarah Mendalam: Maka kewajiban pertama bagi seorang mukallaf secara syariat adalah mengenal Allah Ta'ala dan sifat-sifat-Nya yang luhur, serta memahami apa yang mustahil bagi-Nya dari segala kekurangan manusiawi, dan apa yang jaiz (mungkin) bagi-Nya dalam hal perbuatan-perbuatan yang bersifat mungkin. Di antara sifat-sifat wajib tersebut adalah sifat Wujud (Ada), yang merupakan sifat Nafsiyah, di mana Dzat yang Maha Luhur tidak dapat dibayangkan tanpa keberadaan-Nya. Dalil atas keberadaan Allah Ta'ala adalah eksistensi makhluk-makhluk ini dan keteraturannya yang menakjubkan, yang secara akal mustahil merupakan hasil dari kebetulan atau tanpa ada yang mewujudkannya. Dalam perspektif mufassir, ayat-ayat kauniyah di alam semesta adalah tanda yang menunjuk pada Sang Wajibul Wujud, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai argumen kosmologis yang disusun oleh Imam al-Ghazali dan Imam al-Sanusi.

ثُمَّ تَلِيْهَا الصِّفَاتُ السَّلْبِيَّةُ وَهِيَ الَّتِي تَنْفِي عَنِ اللهِ مَا لَا يَلِيْقُ بِجَلَالِهِ وَهِيَ خَمْسٌ: الْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ وَمُخَالَفَتُهُ لِلْحَوَادِثِ وَقِيَامُهُ بِنَفْسِهِ وَالْوَحْدَانِيَّةُ. فَمَعْنَى الْقِدَمِ أَنَّهُ لَا ابْتِدَاءَ لِوُجُوْدِهِ وَالْبَقَاءُ أَنَّهُ لَا انْتِهَاءَ لَهُ. وَأَمَّا الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ فَهِيَ تَنْفِي عَنِ اللهِ التَّشْبِيْهَ وَالتَّجْسِيْمَ فَهُوَ سُبْحَانَهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ وَلَا عَرَضٍ وَلَا يَحُلُّ فِي مَكَانٍ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ لِأَنَّهُ خَالِقُ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ.

Terjemahan & Syarah Mendalam: Kemudian diikuti oleh sifat-sifat Salbiyah, yaitu sifat-sifat yang meniadakan apa yang tidak layak bagi keagungan Allah. Sifat ini ada lima: Qidam (Terdahulu tanpa awal), Baqa (Kekal tanpa akhir), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dengan makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri sendiri), dan Wahdaniyyah (Esa). Makna Qidam adalah tidak ada permulaan bagi keberadaan-Nya, dan Baqa berarti tidak ada kesudahan bagi-Nya. Adapun Mukhalafatu lil Hawaditsi meniadakan dari Allah segala bentuk penyerupaan (tasybih) dan pembendaan (tajsim). Maka Dia Maha Suci, bukan merupakan materi (jism) maupun sifat materi (aradh), tidak bertempat di suatu ruang, dan tidak pula dilalui oleh waktu, karena Dialah Sang Pencipta waktu dan ruang itu sendiri. Penjelasan ini merujuk pada kaidah ushuluddin yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terlintas dalam benakmu tentang Allah, maka Allah tidaklah demikian.

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ هِيَ صِفَاتُ الْمَعَانِي وَهِيَ صِفَاتٌ وُجُوْدِيَّةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِ اللهِ تَعَالَى وَهِيَ سَبْعٌ: الْقُدْرَةُ وَالْإِرَادَةُ وَالْعِلْمُ وَالْحَيَاةُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْكَلَامُ. فَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ يُؤَثِّرُ بِهَا فِي الْمُمْكِنَاتِ إِيْجَادًا وَإِعْدَامًا وَالْإِرَادَةُ صِفَةٌ تُخَصِّصُ الْمُمْكِنَ بِبَعْضِ مَا يَجُوْزُ عَلَيْهِ. وَعِلْمُهُ تَعَالَى مُحِيْطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ كُلِّيًّا وَجُزْئِيًّا وَاجِبًا وَجَائِزًا وَمُسْتَحِيْلًا فَلَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ.

Terjemahan & Syarah Mendalam: Bagian ketiga adalah sifat-sifat Ma'ani, yaitu sifat-sifat eksistensial yang berdiri pada Dzat Allah Ta'ala. Sifat ini ada tujuh: Qudrah (Kuasa), Iradah (Kehendak), Ilmu (Pengetahuan), Hayat (Hidup), Sama' (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berfirman). Qudrah adalah sifat yang dengannya Allah memberi pengaruh pada segala hal yang mungkin (mungkinat), baik dalam mewujudkannya maupun meniadakannya. Iradah adalah sifat yang mengkhususkan hal-hal yang mungkin dengan sebagian sifat yang boleh ada padanya. Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu, baik yang bersifat universal maupun partikular, yang wajib, yang jaiz, maupun yang mustahil. Maka tidak ada sekecil biji sawi pun yang luput dari pengetahuan-Nya, baik di langit maupun di bumi. Hal ini dipertegas dalam kajian tafsir atas ayat-ayat yang menekankan kemahatahuan Allah yang absolut dan tidak terbatas oleh dimensi material.

وَيَلْزَمُ مِنْ ثُبُوْتِ صِفَاتِ الْمَعَانِي ثُبُوْتُ صِفَاتٍ تُسَمَّى بِالصِّفَاتِ الْمَعْنَوِيَّةِ وَهِيَ كَوْنُهُ تَعَالَى قَادِرًا وَمُرِيْدًا وَعَالِمًا وَحَيًّا وَسَمِيْعًا وَبَصِيْرًا وَمُتَكَلِّمًا. فَهَذِهِ الصِّفَاتُ هِيَ أَحْوَالٌ لَازِمَةٌ لِصِفَاتِ الْمَعَانِي لَا تَنْفَكُّ عَنْهَا. فَمَنْ أَيْقَنَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى مَوْصُوْفٌ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ الْكَمَالِيَّةِ اسْتَقَامَ قَلْبُهُ عَلَى التَّوْحِيْدِ الْخَالِصِ وَتَحَرَّرَ مِنْ رِبْقَةِ الشِّرْكِ وَالْأَوْهَامِ وَصَارَ يَعْبُدُ اللهَ كَأَنَّهُ يَرَاهُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ يَرَاهُ فَإِنَّ اللهَ يَرَاهُ.

Terjemahan & Syarah Mendalam: Dan konsekuensi dari tetapnya sifat-sifat Ma'ani adalah tetapnya sifat-sifat yang disebut dengan sifat Ma'nawiyah, yaitu keadaan Allah Ta'ala sebagai Dzat yang Maha Kuasa (Qadiran), Maha Berkehendak (Muridan), Maha Mengetahui (Aliman), Maha Hidup (Hayyan), Maha Mendengar (Sami'an), Maha Melihat (Bashiran), dan Maha Berfirman (Mutakalliman). Sifat-sifat ini adalah kondisi yang niscaya bagi sifat-sifat Ma'ani dan tidak terpisahkan darinya. Barangsiapa yang meyakini dengan teguh bahwa Allah Ta'ala disifati dengan sifat-sifat kesempurnaan ini, maka hatinya akan istiqamah di atas tauhid yang murni, terbebas dari belenggu syirik dan waham (keraguan), serta ia akan menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya; karena jika ia tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatnya. Ini adalah puncak dari maqam Ihsan yang menjadi tujuan akhir dari setiap pencari kebenaran.