Ilmu Tauhid merupakan pilar fundamental dalam struktur keislaman yang menuntut setiap mukallaf untuk mengenal Allah Swt dengan pengenalan yang benar. Dalam tradisi teologi Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya madzhab Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, pengenalan ini dirumuskan secara sistematis melalui klasifikasi sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. Sifat wajib di sini bermakna sifat yang secara akal tidak mungkin tidak ada pada zat Allah Swt. Para ulama mutakallimin menyusun dua puluh sifat ini bukan untuk membatasi kesempurnaan Allah, melainkan sebagai metodologi bagi akal manusia untuk memahami kemahakuasaan Sang Pencipta di tengah keterbatasan panca indera. Pembahasan ini mencakup dimensi Nafsiyyah, Salbiyyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyyah yang menjadi benteng akidah dari syubhat tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan sifat).
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ . فَوُجُودُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثَابِتٌ بِالذَّاتِ لَا يَقْبَلُ الْعَدَمَ أَزَلًا وَلَا أَبَدًا وَهُوَ الصِّفَةُ النَّفْسِيَّةُ الَّتِي لَا يَعْقِلُ الذَّاتُ دُونَهَا
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Ayat ini merupakan landasan bagi sifat Wujud (Ada) yang dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah. Wujud Allah bersifat Dzati, artinya keberadaan-Nya tidak disebabkan oleh faktor eksternal atau pencipta lain. Secara ontologis, Allah adalah Wajib al-Wujud (Keberadaan yang niscaya), berbeda dengan makhluk yang bersifat Mumkin al-Wujud (mungkin ada dan mungkin tiada). Sifat Awal menunjukkan Qidam (Dahulu tanpa permulaan), sedangkan Akhir menunjukkan Baqa (Kekal tanpa akhir). Penjelasan ini menegaskan bahwa Allah tidak terikat oleh dimensi waktu dan ruang, karena Dialah yang menciptakan waktu dan ruang itu sendiri.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ . فَيَجِبُ لَهُ تَعَالَى الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ فَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ بِوَجْهٍ مِنَ الْوُجُوهِ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Ayat ini menjadi fondasi bagi Sifat Salbiyyah, khususnya Mukhalafatu lil Hawadits (Berbeda dengan makhluk). Sifat Salbiyyah berfungsi meniadakan sifat-sifat kekurangan yang tidak layak bagi Allah. Dalam konteks ini, Allah mustahil memiliki jisim (tubuh), aradh (sifat benda), atau bertempat di suatu arah. Meskipun Allah disifati dengan Mendengar dan Melihat, namun hakikat Pendengaran dan Penglihatan-Nya tidak menggunakan alat atau organ seperti telinga dan mata. Kemahasuciun Allah dari penyerupaan adalah prinsip mutlak dalam tanzih (mensucikan Allah) agar terhindar dari faham antropomorfisme.
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ . اَللّٰهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا اَحَدٌ . وَحْدَانِيَّةُ اللّٰهِ تَعَالَى تَعْنِي عَدَمَ التَّعَدُّدِ فِي ذَاتِهِ وَلَا فِي صِفَاتِهِ وَلَا فِي أَفْعَالِهِ فَلَا مُؤَثِّرَ فِي الْكَوْنِ إِلَّا اللّٰهُ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam:

