Memahami hakikat ketuhanan merupakan kewajiban primordial bagi setiap mukallaf. Dalam diskursus teologi Islam, khususnya dalam madzhab Asy’ariyah dan Maturidiyah, pengenalan terhadap Allah Swt tidak hanya didasarkan pada intuisi spiritual semata, melainkan dibangun di atas fondasi argumentasi rasional (dalil aqli) yang bersinergi dengan wahyu (dalil naqli). Mengenal sifat-sifat wajib bagi Allah bukan sekadar menghafal deretan nama, melainkan upaya menanamkan keyakinan bahwa Sang Pencipta memiliki kesempurnaan mutlak yang mustahil dihinggapi kekurangan. Para ulama merumuskan dua puluh sifat wajib ini sebagai manhaj untuk membedakan antara Sang Khaliq yang bersifat Qadim dengan makhluk yang bersifat hadits atau baru. Pemahaman ini menjadi perisai utama dari syubhat atheisme maupun antropomorfisme (tasybih).
Pembahasan pertama dimulai dengan sifat Nafsiyah, yaitu Wujud. Sifat ini adalah fondasi dari seluruh sifat lainnya, karena mustahil membicarakan sifat tanpa adanya eksistensi Zat. Secara aqli, keberadaan alam semesta yang teratur ini adalah bukti konklusif atas adanya Sang Penggerak Pertama yang keberadaan-Nya bersifat niscaya (Wajib al-Wujud).
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Terjemahan: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al-A'raf: 54).
Syarah: Ayat ini menegaskan eksistensi Allah melalui karya ciptaan-Nya. Dalam ilmu tauhid, Wujud Allah bukanlah sesuatu yang ditambahkan pada Zat-Nya, melainkan Zat itu sendiri. Alam semesta ini berstatus mumkinul wujud (mungkin ada dan mungkin tidak ada), sehingga ia memerlukan Wajib al-Wujud yang memberikan keutamaan bagi adanya alam daripada ketiadaannya. Tanpa adanya sifat Wujud yang hakiki, maka seluruh rantai kausalitas di alam semesta ini akan runtuh dalam kemustahilan logika yang disebut tasalsul (rantai tanpa akhir) atau dawr (lingkaran setan).
Selanjutnya, kita memasuki ranah Sifat Salbiyah. Sifat ini berfungsi untuk meniadakan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan Allah. Di antaranya adalah Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir). Allah Swt tidak terikat oleh dimensi waktu, karena Dialah yang menciptakan waktu itu sendiri. Konsep ini membedakan Allah dari segala sesuatu yang bersifat temporal dan fana.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Hadid: 3).
Syarah: Al-Awwal dalam ayat ini ditafsirkan oleh para mufassir sebagai Al-Qadim, yaitu Zat yang keberadaan-Nya tidak didahului oleh ketiadaan. Jika Allah memiliki permulaan, maka Dia membutuhkan pencipta lain, dan hal ini mustahil bagi Tuhan. Al-Akhir bermakna Al-Baqi, yaitu Zat yang tidak akan pernah mengalami kepunahan. Sifat Salbiyah lainnya seperti Mukhalafatu lil Hawaditsi menegaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya, baik dalam Zat, Sifat, maupun Perbuatan. Inilah prinsip tanziyah (penyucian) yang menjaga kemurnian tauhid dari bayang-bayang personifikasi Tuhan.

