Pondasi utama dalam beragama adalah mengenal Sang Pencipta atau yang dalam tradisi keilmuan Islam disebut sebagai Marifatullah. Tanpa pengenalan yang benar terhadap sifat-sifat Allah, seorang hamba akan terjebak dalam tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) atau tathil (meniadakan sifat-sifat Allah). Para ulama mutakallimin, khususnya dari madrasah Asy-Ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika pemahaman akidah melalui penyusunan Sifat Dua Puluh. Sifat-sifat ini bukanlah pembatasan terhadap kesempurnaan Allah yang tidak terbatas, melainkan sebuah metodologi bagi akal manusia untuk memahami apa yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah Swt. Kajian ini akan membedah secara ontologis bagaimana sifat-sifat tersebut melekat pada Dzat Allah yang Maha Suci.
TEKS ARAB BLOK 1
يَجِبُ فِي حَقِّ اللهِ تَعَالَى الْوُجُودُ وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ بِمَعْنَى أَنَّ الْوُجُودَ لَيْسَ زَائِدًا عَلَى الذَّاتِ فِي الْخَارِجِ بَلْ هُوَ عَيْنُ الذَّاتِ وَالدَّلِيلُ عَلَى ذَلِكَ حُدُوثُ الْعَالَمِ فَإِنَّ كُلَّ حَادِثٍ لَا بُدَّ لَهُ مِنْ مُحْدِثٍ وَهُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي وَجَبَ وُجُودُهُ لِذَاتِهِ فَلَا يَقْبَلُ الْعَدَمَ أَزَلًا وَلَا أَبَدًا
Terjemahan dan Tafsir Mendalam Blok 1:
Wajib bagi hak Allah Taala sifat Wujud (Ada), dan ia merupakan sifat nafsiyyah dalam artian bahwa keberadaan itu bukanlah sesuatu yang tambahan pada Dzat di luar sana, melainkan ia adalah Dzat itu sendiri. Dalil atas hal ini adalah barunya alam semesta, karena setiap yang baru pasti membutuhkan pencipta, dan Dialah Allah Subhanahu wa Taala yang wajib keberadaan-Nya demi Dzat-Nya sendiri, maka Ia tidak menerima ketiadaan baik di masa azali maupun selamanya.
Dalam analisis teologis, sifat Wujud dikategorikan sebagai sifat nafsiyyah karena ia menunjukkan jati diri Dzat tanpa adanya tambahan makna lain. Secara aqli, keberadaan alam semesta yang bersifat mungkin (mungkinul wujud) meniscayakan adanya Pencipta yang bersifat Wajib Al-Wujud. Jika Pencipta itu sendiri bersifat mungkin, maka akan terjadi tasalsul (mata rantai tanpa akhir) atau dawr (lingkaran setan), yang keduanya mustahil secara logika. Oleh karena itu, Allah adalah titik awal yang keberadaan-Nya bersifat mutlak dan tidak bergantung pada sebab apa pun.
TEKS ARAB BLOK 2
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ فَقِدَمُهُ تَعَالَى عِبَارَةٌ عَنْ سَلْبِ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى وُجُودِهِ وَبَقَاؤُهُ عِبَارَةٌ عَنْ سَلْبِ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِوُجُودِهِ فَلَا اِبْتِدَاءَ لِوُجُودِهِ وَلَا انْتِهَاءَ لِذَاتِهِ
Terjemahan dan Tafsir Mendalam Blok 2:

