Kehidupan modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan dominasi materialisme seringkali menempatkan manusia pada krisis eksistensial yang akut. Dalam diskursus teologi Islam, tantangan terbesar bagi seorang Muslim di era kontemporer bukan sekadar serangan pemikiran eksternal, melainkan pergeseran orientasi hati dari Sang Pencipta menuju makhluk atau benda-benda duniawi. Tauhid, sebagai fondasi paling fundamental dalam Islam, bukan sekadar konsep teoritis tentang keesaan Tuhan, melainkan sebuah sistem nilai yang mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia, mulai dari aspek privat hingga publik. Menjaga kemurnian tauhid di tengah gempuran sekularisme dan hedonisme memerlukan pemahaman teks yang mendalam serta internalisasi nilai-nilai rabbaniyah yang kokoh.
Dasar utama dari keberadaan seorang mukmin adalah penyerahan totalitas eksistensi hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di tengah gempuran ideologi materialisme yang mengukur segala sesuatu dari aspek materi, ayat berikut menjadi kompas moral dan spiritual yang sangat fundamental bagi setiap jiwa yang merindukan ketenangan hakiki.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (Muslim). (QS. Al-An'am: 162-163).
Syarah dan Tafsir Mendalam:
Dalam tinjauan mufassir, penggunaan kata Nusuk dalam ayat ini mencakup seluruh bentuk peribadatan, baik yang bersifat ritualistik maupun sosial. Frasa Mahyaya wa Mamati menegaskan bahwa tauhid melampaui batas-batas ruang ibadah formal (masjid). Hidup dan mati seorang Muslim adalah proyeksi dari pengabdian kepada Allah. Dalam konteks modern, ini berarti setiap aktivitas profesional, sosial, dan politik harus diletakkan dalam kerangka mencari rida Allah. Tauhid menuntut penafian terhadap segala bentuk tuhan-tuhan kecil (arbab) seperti jabatan, harta, atau popularitas yang seringkali menjadi berhala baru di era digital ini. Tanpa kesadaran ini, manusia akan terjebak dalam penghambaan kepada sesama makhluk yang bersifat fana.
Kehidupan modern seringkali menjebak manusia dalam pemenuhan hak-hak duniawi semata, sehingga melupakan hakikat penciptaan. Rasulullah SAW dalam sebuah dialog teologis yang sangat masyhur dengan Mu'adz bin Jabal, menekankan adanya hak mutlak Sang Pencipta atas hamba-Nya yang harus didahulukan di atas segala kepentingan profan dan ambisi pribadi.
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ فَقَالَ لِي يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Terjemahan: Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku pernah membonceng Nabi shallallahu alaihi wasallam di atas seekor keledai, lalu beliau bersabda kepadaku: Wahai Mu'adz, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Allah? Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: Sesungguhnya hak Allah atas para hamba adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan hak para hamba atas Allah adalah bahwa Dia tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (HR. Bukhari dan Muslim).

