Tauhid bukan sekadar konsep teologis yang statis, melainkan fondasi eksistensial yang menentukan arah kehidupan seorang mukmin. Di era modern yang penuh dengan disrupsi nilai, materialisme, dan sekularisme, menjaga kemurnian tauhid menjadi tantangan yang semakin kompleks. Tauhid berfungsi sebagai kompas moral dan jangkar spiritual yang menjaga manusia agar tidak terombang-ambing oleh kepentingan duniawi yang fana. Secara ontologis, tauhid menetapkan bahwa Allah adalah pusat dari segala realitas, dan secara aksiologis, tauhid menuntut pengabdian total dalam setiap dimensi kehidupan, baik sosial, ekonomi, maupun politik. Berikut adalah bedah materi mendalam mengenai pilar-pilar tauhid dalam menjawab tantangan zaman.

Langkah pertama dalam memahami tauhid adalah menetapkan kemurnian zat dan sifat Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk. Dalam kehidupan modern, seringkali manusia terjebak pada pengkultusan terhadap teknologi atau kekuatan materi yang seolah-olah memiliki kuasa mutlak. Al-Quran menegaskan hakikat keesaan ini secara absolut.

Dalam Artikel

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْۚ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.

Syarah dan Tafsir Mendalam: Ayat-ayat dalam Surah Al-Ikhlas ini merupakan landasan utama Tauhid Al-Uluhiyah dan Al-Asma' was-Sifat. Kata Ash-Samad mengandung makna yang sangat dalam bagi manusia modern; bahwa hanya Allah-lah tumpuan segala hajat. Di tengah ketergantungan manusia pada sistem global dan kekuatan ekonomi, ayat ini mengingatkan bahwa segala sebab material hanyalah perantara, sementara sumber kekuatan sejati adalah Allah. Penafian kufuwan ahad (kesetaraan) menegaskan bahwa tidak ada ideologi, pemimpin, atau harta benda yang boleh diposisikan sejajar dengan otoritas Tuhan dalam hati seorang mukmin.

Selanjutnya, tauhid berkaitan erat dengan perjanjian primordial antara manusia dengan Penciptanya. Kesadaran akan ketuhanan telah tertanam dalam fitrah manusia sejak alam ruh. Modernitas seringkali menutupi fitrah ini dengan kebisingan duniawi, sehingga manusia lupa akan hakikat penciptaannya.

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوْا بَلٰى شَهِدْنَا اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ

Terjemahan: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.

Syarah dan Tafsir Mendalam: Ayat ini (QS. Al-A'raf: 172) menjelaskan konsep Al-Mithaq atau perjanjian suci. Secara epistemologis, ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang Tuhan bersifat apriori. Dalam konteks modern, tantangan terbesar adalah ghaflah atau kelalaian. Manusia modern cenderung mengabaikan dimensi transenden karena terlalu fokus pada dimensi empiris. Tauhid menuntut kita untuk menghidupkan kembali kesaksian bala syahidna (betul, kami bersaksi) dalam setiap tindakan, sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan manusia tetap berada dalam kerangka pengabdian kepada Sang Khaliq, bukan justru menjadi alat untuk bersikap arogan di muka bumi.