Tauhid merupakan poros utama dalam konstelasi ajaran Islam yang tidak hanya mengatur dimensi teologis-transendental, tetapi juga menjadi kompas moral dan etika dalam menavigasi kompleksitas kehidupan modern. Di tengah gempuran materialisme, sekularisme, dan disrupsi digital, pemahaman akan keesaan Allah seringkali tereduksi menjadi sekadar pengakuan lisan tanpa pemaknaan substantif. Sebagai seorang mufassir dan analis teks, penting bagi kita untuk kembali menelaah fondasi eksistensial penciptaan manusia yang berakar pada pengabdian mutlak. Modernitas dengan segala kemudahannya seringkali menawarkan berhala-berhala baru dalam bentuk ego, popularitas, dan materi yang jika tidak diwaspadai dapat mengikis integritas spiritual seorang mukmin. Oleh karena itu, rekonstruksi pemahaman tauhid melalui pendekatan teks-teks otoritatif menjadi sebuah keniscayaan ilmiah dan amaliyah.
[TEKS ARAB BLOK 1]
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 1:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. Az-Zariyat: 56-58).
Dalam perspektif tafsir tahlili, ayat ini menetapkan Illat atau alasan finalistik dari keberadaan makhluk mukallaf. Kata Liya budun (untuk menyembah-Ku) menurut Ibnu Abbas bermakna Liyuwahhidun (untuk mentauhidkan-Ku). Di era modern, ayat ini menjadi kritik tajam terhadap gaya hidup yang menempatkan produktivitas ekonomi dan pencapaian material sebagai tujuan akhir hidup. Penegasan bahwa Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) memberikan ketenangan psikologis bagi manusia modern yang sering dilanda kecemasan akan masa depan finansial. Tauhid dalam konteks ini berfungsi sebagai pembebas manusia dari perbudakan terhadap sesama makhluk dan ketergantungan semu pada sebab-sebab material, mengembalikan orientasi hidup pada pengabdian yang murni kepada Sang Pencipta.
[TEKS ARAB BLOK 2]
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Terjemahan & Tafsir Mendalam Blok 2:

