Kehidupan modern dengan segala kecanggihan teknologi, penetrasi budaya global, dan dominasi sistem sekuler menyajikan tantangan yang belum pernah dihadapi oleh generasi muslim sebelumnya. Di satu sisi, modernitas menawarkan kemudahan hidup materiil yang luar biasa. Namun di sisi lain, ia membawa badai spiritual yang mengancam fondasi paling mendasar dalam Islam, yaitu tauhid. Tauhid bukan sekadar pengakuan lisan bahwa Allah itu Esa, melainkan sebuah sistem kesadaran komprehensif yang mengarahkan seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan manusia hanya kepada Sang Pencipta. Ketika modernisme menggeser poros kehidupan dari teosentris (berpusat pada Tuhan) menjadi antroposentris (berpusat pada manusia dan materinya), di situlah urgensi rekonstruksi pemahaman tauhid menjadi mutlak diperlukan. Sebagai mufassir dan analis teks