Kehidupan modern dengan segala kompleksitasnya membawa tantangan yang tidak ringan bagi integritas keimanan seorang Muslim. Fenomena materialisme, sekularisme, dan pemujaan terhadap teknologi seringkali mengaburkan batas antara ketergantungan kepada Sang Pencipta dengan ketergantungan kepada makhluk. Tauhid, sebagai fondasi utama dalam Islam, bukan sekadar pengakuan lisan akan keesaan Allah, melainkan sebuah orientasi hidup yang menyeluruh yang mencakup dimensi rububiyah, uluhiyah, serta asma wa shifat. Di tengah hiruk-pikuk disrupsi global, kemurnian tauhid menjadi satu-satunya jangkar yang mampu menjaga stabilitas spiritual manusia agar tidak terombang-ambing oleh ideologi yang menjauhkan hamba dari Tuhannya. Para ulama salaf senantiasa menekankan bahwa setiap detak jantung dan langkah kaki seorang mukmin haruslah didasarkan pada kesadaran penuh bahwa tidak ada otoritas tertinggi selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Terjemahan: Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.
Syarah dan Tafsir Mendalam: Surah Al-Ikhlas ini merupakan representasi sepertiga Al-Quran karena mengandung prinsip dasar teologi Islam. Kata Al-Ahad menegaskan keesaan dzat yang tidak terbagi, sementara Al-Samad mengandung makna bahwa Allah adalah tumpuan terakhir bagi setiap makhluk dalam memenuhi hajat mereka. Dalam konteks modernitas, ayat ini menjadi kritik tajam terhadap kecenderungan manusia yang seringkali menjadikan materi, jabatan, atau teknologi sebagai tempat bergantung (al-samadiyyah semu). Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kemandirian Allah (Al-Ghani) mutlak adanya, sehingga segala bentuk penyandaran hati kepada selain-Nya di era digital ini merupakan bentuk pengikisan terhadap esensi tauhid yang murni. Seorang muwahhid (orang yang bertauhid) harus menyadari bahwa di balik kecanggihan algoritma dan sistem dunia, hanya Allah yang memegang kendali absolut atas segala sebab dan akibat.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ . إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Terjemahan: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.
Syarah dan Tafsir Mendalam: Ayat dalam Surah Adh-Dhariyat ini menetapkan teleologi atau tujuan akhir dari eksistensi manusia. Kata li-ya'budun menurut Ibnu Abbas bermakna li-yuwahhidun, yakni untuk mentauhidkan-Ku. Di zaman modern di mana produktivitas dan akumulasi kekayaan sering dianggap sebagai tujuan hidup tertinggi, ayat ini mengingatkan bahwa segala aktivitas keduniaan hanyalah sarana, sedangkan ibadah adalah tujuan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mendefinisikan ibadah sebagai nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Oleh karena itu, menjaga tauhid di kantor, di pasar, maupun di ruang siber berarti memastikan bahwa seluruh gerak-gerik kita tidak keluar dari koridor penghambaan kepada Allah. Penegasan Allah sebagai Ar-Razzaq di akhir rangkaian ayat ini bertujuan untuk menghilangkan kekhawatiran manusia akan urusan logistik yang seringkali menjadi pintu masuk bagi rusaknya akidah melalui praktik-praktik yang tidak syar'i.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Terjemahan: Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.

