Memahami sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan puncak dari segala disiplin ilmu keislaman, karena ia menjadi fondasi utama dalam bangunan akidah seorang mukmin. Para ulama mutakallimin, khususnya dari kalangan Asy-ariyyah dan Maturidiyyah, telah merumuskan sistematika pengenalan terhadap Allah melalui sifat-sifat wajib yang harus diyakini secara mutlak. Pendekatan ini bukan sekadar hafalan dogmatis, melainkan sebuah proses intelektual dan spiritual untuk mengenal Sang Pencipta melalui dalil-dalil yang kokoh, baik secara tekstual (naqli) maupun rasional (aqli). Kajian ini akan membedah lima klasifikasi utama yang merepresentasikan keagungan Allah di tengah keterbatasan nalar manusia yang bersifat temporal.

Sifat yang pertama dan paling mendasar adalah Wujud. Eksistensi Allah adalah sebuah keniscayaan ontologis yang disebut sebagai Wajib al-Wujud. Berbeda dengan eksistensi makhluk yang bersifat mungkin (mumkin al-wujud) dan membutuhkan pencipta, eksistensi Allah adalah zat yang berdiri sendiri tanpa adanya permulaan yang mendahului-Nya.

Dalam Artikel

الْوَاجِبُ لِلّٰهِ تَعَالَى الْوُجُودُ وَهُوَ صِفَةٌ نَفْسِيَّةٌ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ اللّٰهَ تَعَالَى مَوْجُودٌ لَا بِفَاعِلٍ، وَدَلِيلُهُ وُجُودُ هٰذَا الْعَالَمِ الْبَدِيعِ التَّرْكِيبِ، فَإِنَّهُ لَا يُعْقَلُ وُجُودُ مَصْنُوعٍ مِنْ غَيْرِ صَانِعٍ، وَلَا وُجُودُ مَوْجُودٍ مِنْ غَيْرِ مُوجِدٍ، فَثَبَتَ وُجُودُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهُوَ الْخَالِقُ لِكُلِّ شَيْءٍ

Terjemahan dan Syarah: Sifat wajib bagi Allah yang pertama adalah Al-Wujud (Ada), yang dikategorikan sebagai Sifat Nafsiyyah. Maknanya adalah bahwa Allah Ta'ala itu ada tanpa ada yang mengadakan atau menciptakan-Nya. Dalil aqli (rasional) atas eksistensi-Nya adalah keberadaan alam semesta yang memiliki tatanan sangat rapi dan menakjubkan ini. Secara logika, tidak mungkin ada sebuah karya tanpa ada penciptanya, dan tidak mungkin ada sesuatu yang wujud tanpa ada yang mewujudkannya. Maka, tetaplah secara pasti bahwa Allah itu ada dan Dialah Pencipta segala sesuatu. Dalam pandangan mufassir, ayat-ayat kauniyah merupakan tanda nyata yang menuntut manusia untuk mengakui keberadaan Sang Khaliq di balik tirai fenomena alam.

Setelah menetapkan eksistensi-Nya, kita harus memahami bahwa Allah tidak terikat oleh dimensi waktu. Sifat Qidam (Terdahulu tanpa permulaan) dan Baqa (Kekal tanpa akhir) merupakan sifat Salbiyah yang menafikan segala bentuk keterbatasan temporal yang biasa dialami oleh makhluk. Allah mendahului segala sesuatu dan akan tetap ada ketika segala sesuatu binasa.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. وَمَعْنَى الْقِدَمِ نَفْيُ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُودِ، وَمَعْنَى الْبَقَاءِ نَفْيُ الْعَدَمِ اللَّاحِقِ لِلْوُجُودِ، فَهُوَ سُبْحَانَهُ لَا يَفْنَى وَلَا يَبِيدُ وَلَا يَكُونُ إِلَّا مَا يُرِيدُ، قَدِيمٌ بِلَا ابْتِدَاءٍ، دَائِمٌ بِلَا انْتِهَاءٍ

Terjemahan dan Syarah: Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Makna Qidam adalah menafikan ketiadaan yang mendahului keberadaan (tidak ada permulaan bagi-Nya), sedangkan makna Baqa adalah menafikan ketiadaan yang menyusul keberadaan (tidak ada akhir bagi-Nya). Maka Allah Subhanu wa Ta'ala tidak akan sirna dan tidak akan binasa, dan tidak akan terjadi kecuali apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Terdahulu tanpa permulaan dan Maha Kekal tanpa pengakhiran. Penjelasan ini merujuk pada Surat Al-Hadid ayat 3, yang menjadi dasar bagi para ulama akidah untuk menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya entitas yang berada di luar jerat waktu, sehingga Dia tidak mengalami perubahan atau penuaan sebagaimana makhluk.

Aspek krusial lainnya dalam tauhid adalah keyakinan bahwa Allah berbeda secara total dari segala sesuatu yang baru (makhluk). Sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi menegaskan transendensi Allah yang mutlak, sehingga segala bentuk penyerupaan (tasybih) atau penggambaran fisik (tajsim) terhadap Allah adalah mustahil dan bathil secara syar'i maupun aqli.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ. فَاللّٰهُ تَعَالَى لَيْسَ بِجِسْمٍ وَلَا جَوْهَرٍ وَلَا عَرَضٍ، وَلَا يَحُلُّ فِي مَكَانٍ، وَلَا يَمُرُّ عَلَيْهِ زَمَانٌ، لِأَنَّ كُلَّ مَا خَطَرَ بِبَالِكَ فَاللّٰهُ بِخِلَافِ ذٰلِكَ، فَتَنَزَّهَ سُبْحَانَهُ عَنْ مُشَابَهَةِ الْمَخْلُوقَاتِ فِي الذَّاتِ وَالصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ