Dunia digital hari ini sering kali berubah menjadi medan laga tanpa aturan, di mana perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman yang harus dimusnahkan. Fenomena saling hujat, pelabelan negatif, hingga pemutusan silaturahmi seolah menjadi bumbu harian dalam interaksi sosial kita. Padahal, jika kita menilik kembali pada hakikat penciptaan, keberagaman pikiran adalah sebuah keniscayaan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Mengelola perbedaan dengan kemarahan hanya akan menunjukkan kedangkalan cara berpikir dan rapuhnya kematangan spiritual seseorang.
Islam memandang perbedaan sebagai ruang untuk saling mengenal dan memperkaya perspektif, bukan untuk memicu perpecahan yang destruktif. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Quran bahwa keragaman adalah kehendak-Nya agar manusia dapat saling belajar. Sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tujuan utama dari adanya perbedaan adalah lita’arafu atau saling mengenal. Tanpa adanya perbedaan, tidak akan ada proses belajar, tidak ada dialektika, dan tidak ada ruang bagi tumbuhnya kebijaksanaan. Maka, memaksakan keseragaman pendapat adalah bentuk pengingkaran terhadap sunnatullah yang telah ada sejak awal penciptaan manusia.
Krisis yang kita hadapi saat ini sebenarnya bukanlah perbedaan pendapat itu sendiri, melainkan hilangnya adab dalam menyampaikan pendapat. Akhlakul karimah yang seharusnya menjadi identitas utama seorang Muslim sering kali tertutup oleh ego yang merasa paling benar. Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama terdahulu telah memberikan teladan luar biasa tentang bagaimana cara berselisih tanpa harus membenci. Mereka bisa berbeda dalam masalah fikih yang sangat mendalam, namun tetap saling memuliakan dan mendoakan dalam kehidupan sosial.
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras bagi mereka yang gemar bertikai dan memelihara permusuhan hanya karena kerasnya hati dalam berdebat. Beliau bersabda:
أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الْخَصِمُ
Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras dalam berdebat atau bertikai. Hadis ini seharusnya menjadi rem bagi setiap lisan dan jemari kita sebelum melontarkan kalimat yang menyakitkan. Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang kasar dan penuh kebencian justru akan kehilangan esensinya, karena Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kelembutan dan kasih sayang.
Kritis dalam menyikapi isu sosial adalah sebuah keharusan, namun kritis tidak berarti harus kehilangan kesantunan. Seorang Muslim yang cerdas akan mampu memisahkan antara substansi argumen dengan serangan personal. Ketika kita tidak setuju dengan kebijakan atau pemikiran seseorang, yang kita bedah adalah argumennya, bukan martabat pribadinya. Inilah yang membedakan antara diskusi yang mencerahkan dengan debat kusir yang hanya menguras energi dan merusak hati.

