Fenomena perbedaan pendapat di tengah masyarakat kita saat ini sering kali berujung pada perpecahan yang tajam, terutama di ruang digital. Sebagai makhluk sosial yang dianugerahi akal dan latar belakang yang beragam, perbedaan pemikiran adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin dihindari. Namun, yang menjadi persoalan besar bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan bagaimana cara kita menyikapinya. Islam tidak pernah melarang adanya diskursus atau perbedaan ijtihad, asalkan landasan yang digunakan tetap berpijak pada nilai-nilai kemuliaan budi pekerti atau Akhlakul Karimah.
Saat ini, kita menyaksikan betapa mudahnya seseorang merendahkan martabat orang lain hanya karena berbeda pandangan politik atau mazhab keagamaan. Padahal, Al-Quran telah memberikan rambu-rambu yang sangat jelas agar kita tidak terjebak dalam sikap saling meremehkan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok itu lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Ayat ini merupakan peringatan keras bahwa kebenaran yang kita yakini tidak semestinya membuat kita merasa lebih suci atau lebih tinggi daripada orang lain hingga kehilangan adab dalam berinteraksi.
Etika dalam berdiskusi atau berdebat dalam Islam diatur dengan sangat elegan. Islam mengenal konsep Mujadalah, yaitu berdebat dengan cara yang terbaik. Tujuan utama dari sebuah perbedaan pendapat seharusnya adalah mencari kebenaran, bukan mencari kemenangan ego. Ketika kita mengedepankan emosi dan caci maki, maka esensi dari pesan dakwah itu sendiri akan hilang. Allah SWT memerintahkan dalam Surah An-Nahl ayat 125:
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Perintah untuk membantah dengan cara yang lebih baik ini menunjukkan bahwa argumen yang kuat harus dibalut dengan tutur kata yang santun. Tanpa akhlak, argumentasi yang paling logis sekalipun hanya akan memicu resistensi dan kebencian, bukan kesadaran.
Sejarah para ulama salaf memberikan teladan yang luar biasa dalam mengelola ikhtilaf. Imam Syafi'i pernah berkata bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap tawadhu atau rendah hati intelektual inilah yang mulai luntur di zaman sekarang. Banyak dari kita yang merasa memegang kunci kebenaran tunggal, sehingga dengan mudah memberikan label negatif kepada mereka yang berseberangan. Padahal, keberagaman pemikiran dalam koridor yang benar justru merupakan kekayaan khazanah keilmuan Islam.
Kita perlu merenungkan kembali sebuah ungkapan yang sering dikutip oleh para ulama dalam menyikapi keragaman pandangan:

