Di era di mana jempol lebih cepat bergerak daripada logika, dakwah digital bagi Generasi Z bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan sejarah. Namun, kita harus berani bertanya secara kritis: apakah pesan-pesan langit yang kita sampaikan masih memiliki bobot spiritual yang sama ketika ia tereduksi menjadi video pendek berdurasi lima belas detik? Transformasi medium dakwah dari mimbar fisik ke layar kaca ponsel pintar membawa konsekuensi besar pada cara pesan tersebut diterima dan diresapi oleh generasi yang lahir dengan teknologi di tangan mereka.
Fenomena agama instan menjadi tantangan intelektual terbesar saat ini. Generasi Z yang terbiasa dengan segala sesuatu yang serba cepat cenderung menyerap ilmu dari cuplikan-cuplikan konten tanpa sanad atau konteks yang jelas. Akibatnya, pemahaman agama sering kali menjadi fragmen-fragmen yang terputus, kehilangan kedalaman, dan rentan terhadap salah tafsir. Kita menghadapi risiko besar di mana agama hanya dipahami sebagai tren gaya hidup, bukan sebagai kompas moral yang menghunjam ke dalam sanubari.
Islam mengajarkan kita untuk senantiasa mengedepankan kebijaksanaan dalam menyampaikan kebenaran, terutama di tengah kebisingan informasi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Ayat ini menegaskan bahwa hikmah dan tutur kata yang baik adalah pilar utama dalam mengajak manusia ke jalan Tuhan. Di dunia digital, hikmah berarti kemampuan kita untuk memahami psikologi audiens muda tanpa harus mengorbankan integritas syariat demi sekadar mengejar angka penayangan atau algoritma yang fana.
Tantangan berikutnya adalah algoritma media sosial yang cenderung menciptakan ruang gema atau echo chambers. Ruang ini mengurung individu dalam pemikiran yang sempit karena mereka hanya terpapar pada opini-opini yang mereka sukai saja. Bagi Generasi Z, hal ini dapat memicu fanatisme kelompok yang berlebihan. Dakwah harus mampu menjadi jembatan yang menembus sekat-sekat ini dengan membawa narasi yang inklusif, menyejukkan, namun tetap teguh pada prinsip-prinsip dasar akidah.
Selain itu, krisis akhlak di kolom komentar mencerminkan betapa jauhnya etika digital kita dari konsep Akhlakul Karimah. Debat kusir, perundungan, dan caci maki yang dilakukan atas nama pembelaan terhadap agama justru menjadi bumerang yang menjauhkan generasi muda dari keindahan Islam. Dakwah digital harus memprioritaskan keteladanan perilaku atau uswah daripada sekadar retorika kata-kata. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Pesan ini mengingatkan kita bahwa misi utama Islam adalah penyempurnaan akhlak, yang seharusnya tercermin dalam setiap unggahan, komentar, dan interaksi kita di ruang siber yang tanpa batas tersebut.

