Era digital telah mengubah lanskap dakwah secara revolusioner. Bagi Generasi Z, yang lahir dan tumbuh dalam dekapan teknologi informasi, mimbar-mimbar masjid kini telah berpindah ke layar gawai dalam bentuk video pendek berdurasi tiga puluh detik. Demokratisasi informasi keagamaan ini tentu membawa angin segar, di mana akses terhadap ilmu agama menjadi tanpa batas. Namun, di balik kemudahan ini, tersimpan tantangan besar yang mengancam kedalaman pemahaman agama itu sendiri. Dakwah digital sering kali terjebak dalam arus kedangkalan, di mana estetika visual lebih diutamakan ketimbang validitas dan kedalaman metodologi keilmuan Islam.

Salah satu ancaman paling nyata dalam dakwah digital hari ini adalah hilangnya tradisi sanad keilmuan yang kokoh. Dalam tradisi Islam klasik, menuntut ilmu wajib dilakukan secara talaqqi, bertemu langsung dengan guru untuk menyerap tidak hanya ucapannya, tetapi juga adab dan keteladanannya. Di ruang siber, siapa saja yang memiliki gawai dan kemampuan berbicara di depan kamera dapat dengan mudah ditasbihkan sebagai rujukan agama oleh netizen. Fenomena ini melahirkan fatwa-fatwa instan yang kerap kali mengabaikan kaidah ushul fiqh. Al-Quran telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya berbicara tanpa dasar keilmuan yang jelas:

Dalam Artikel

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra: 36).

Desain algoritma media sosial yang dirancang untuk memicu reaksi emosional turut memperkeruh suasana. Konten-konten keagamaan yang bernada keras, menghakimi, dan memecah belah sering kali mendapatkan keterlibatan (engagement) yang lebih tinggi dibandingkan konten yang menyejukkan dan mendalam. Generasi Z yang sedang mencari identitas diri kerap disuguhi narasi hitam-putih yang memicu polarisasi. Dakwah yang seharusnya menjadi sarana penyucian jiwa (taz