Keberagaman adalah sunnatullah yang tidak mungkin kita hindari dalam kehidupan bermasyarakat. Allah SWT telah merancang dunia ini dengan warna-warni pemikiran, latar belakang, dan sudut pandang yang berbeda. Namun, fenomena yang kita saksikan hari ini, terutama di ruang digital, justru menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi pintu rahmat dan sarana pertukaran ilmu, kini sering kali berubah menjadi ajang caci maki, perundungan, dan pemutusan silaturahmi. Kita seolah lupa bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa keras ia berteriak membela argumennya, melainkan dari kemampuannya menjaga martabat orang lain saat berselisih paham.

Islam tidak pernah melarang adanya perbedaan pendapat. Sejarah mencatat betapa para sahabat Nabi dan para imam mazhab memiliki pandangan yang beragam dalam masalah ijtihadiyyah, namun mereka tetap saling menghormati. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

Dalam Artikel

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan dari keberagaman adalah untuk saling mengenal atau lita'arafu. Mengenal di sini bukan sekadar tahu nama, melainkan memahami latar belakang pemikiran dan menghargai eksistensi masing-masing. Tanpa adanya adab, perbedaan hanya akan melahirkan ego yang merasa paling benar sendiri, yang dalam terminologi agama disebut sebagai penyakit kibr atau sombong.

Kritik sosial yang perlu kita renungkan adalah hilangnya akhlakul karimah dalam berdialog. Banyak dari kita yang merasa sedang membela kebenaran, namun menggunakan cara-cara yang batil. Menghujat, memfitnah, dan merendahkan lawan bicara bukanlah karakter seorang mukmin yang sejati. Rasulullah SAW diutus ke muka bumi ini dengan misi utama yang sangat jelas, sebagaimana sabdanya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Misi penyempurnaan akhlak ini seharusnya menjadi kompas utama kita dalam berinteraksi. Jika sebuah argumen disampaikan dengan cara yang kasar dan melukai hati, maka esensi kebenaran dari argumen tersebut akan hilang tertutup oleh buruknya penyampaian. Kebenaran yang disampaikan tanpa adab sering kali justru menjauhkan orang dari hidayah dan kebaikan itu sendiri.

Dalam konteks isu sosial saat ini, kita sering terjebak pada dikotomi hitam-putih yang kaku. Kita cenderung membangun tembok pemisah antara kelompok kita dan kelompok mereka. Padahal, Islam mengajarkan konsep ukhuwah yang luas. Berbeda pendapat dalam masalah politik, sosial, atau tafsir keagamaan tertentu tidak boleh meruntuhkan bangunan persaudaraan. Kita perlu mengedepankan husnudzon atau berprasangka baik bahwa orang yang berbeda pendapat dengan kita mungkin memiliki dalil atau pertimbangan yang belum kita pahami sepenuhnya.

Sikap kritis yang beradab menuntut kita untuk mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Sebelum membantah pendapat orang lain, tanyakan pada diri sendiri apakah kita sudah benar-benar memahami posisi mereka. Sering kali, konflik terjadi karena adanya miskomunikasi dan kegagalan dalam berempati. Akhlakul karimah menuntun kita untuk tetap berkata lembut meskipun dalam perdebatan yang sengit. Allah SWT memerintahkan kita untuk berdakwah dan berdiskusi dengan cara yang terbaik, sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nahl ayat 125: