Keberagaman pemikiran adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin kita hindari dalam kehidupan bermasyarakat. Sejarah mencatat bahwa perbedaan pandangan telah ada sejak zaman para sahabat Nabi Muhammad SAW, namun yang membedakan mereka dengan kita hari ini adalah bagaimana mereka mengelola perbedaan tersebut. Saat ini, kita menyaksikan fenomena di mana perbedaan pendapat sering kali berujung pada caci maki, pengkotak-kotakan, hingga pemutusan tali silaturahmi. Ruang publik, terutama media sosial, telah berubah menjadi medan tempur ego yang kering dari nilai-nilai spiritualitas dan kesantunan.
Islam memandang keragaman sebagai ayat atau tanda kebesaran Allah yang seharusnya mendorong kita untuk saling mengenal dan melengkapi. Perbedaan bukan merupakan alasan untuk saling merendahkan, melainkan sarana untuk memperluas cakrawala berpikir. Allah SWT telah menegaskan prinsip dasar penciptaan manusia dalam keberagaman melalui firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tujuan utama dari adanya perbedaan adalah untuk saling mengenal atau lita'arafu. Dalam konteks perbedaan pendapat, mengenal berarti berusaha memahami latar belakang pemikiran orang lain, bukan justru mencari celah untuk menjatuhkannya. Tanpa semangat saling mengenal, perbedaan hanya akan menjadi api yang membakar bangunan ukhuwah Islamiyah yang telah lama kita bangun bersama.
Akhlakul karimah atau akhlak yang mulia harus menjadi kompas utama bagi setiap Muslim ketika berhadapan dengan ketidaksetujuan. Sering kali kita merasa paling benar sehingga menutup pintu dialog dan mengabaikan kehormatan sesama Muslim. Padahal, misi utama diutusnya Rasulullah SAW adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. Beliau bersabda dalam sebuah hadis yang sangat masyhur:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Hadis ini memberikan pesan kuat bahwa kebenaran argumen tidak ada artinya jika disampaikan dengan cara yang buruk. Menjaga lisan dan tulisan agar tidak melukai hati orang lain adalah manifestasi nyata dari iman. Seseorang yang memiliki kedalaman ilmu seharusnya memiliki kelapangan dada yang luas, karena ia menyadari bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah, sementara pemahaman manusia bersifat relatif dan terbatas.
Belajar dari para imam mazhab, kita menemukan teladan luar biasa dalam menyikapi perbedaan. Imam Syafi'i pernah berkata bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap tawadhu atau rendah hati seperti inilah yang mulai hilang dari perdebatan kita hari ini. Kita lebih sering terjebak pada keinginan untuk menang dalam debat (mujadalah) daripada keinginan untuk mencari kebenaran bersama (mudzakarah).
Krisis adab dalam berbeda pendapat ini juga dipicu oleh fanatisme buta terhadap kelompok atau guru tertentu. Ketika seseorang sudah terjebak dalam fanatisme, ia cenderung menutup mata terhadap kebenaran yang datang dari pihak lain. Hal ini sangat berbahaya karena dapat memicu perpecahan yang sistematis di tengah ummat. Akhlakul karimah menuntut kita untuk tetap bersikap adil, bahkan kepada mereka yang tidak kita sukai atau mereka yang berseberangan pandangan politik maupun keagamaan dengan kita.

