Di era disrupsi informasi saat ini, kita sering menyaksikan betapa mudahnya perbedaan pendapat berubah menjadi perselisihan yang tajam. Media sosial yang seharusnya menjadi jembatan silaturahmi justru kerap beralih fungsi menjadi medan pertempuran kata-kata yang penuh caci maki. Gejala ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam kehidupan sosial kita, di mana ego sering kali diletakkan di atas kebenaran, dan keinginan untuk menang mengalahkan semangat untuk saling memahami. Sebagai umat yang menjunjung tinggi nilai-nilai langit, fenomena ini tentu menjadi kegelisahan kolektif yang harus segera kita cari penawarnya.

Islam memandang perbedaan sebagai sebuah keniscayaan sejarah dan kehendak Ilahi yang tidak dapat dihindari. Keragaman pemikiran, sudut pandang, hingga latar belakang budaya adalah bagian dari keindahan ciptaan Allah yang seharusnya memperkaya khazanah peradaban manusia. Namun, masalah utama saat ini bukan terletak pada adanya perbedaan itu sendiri, melainkan pada ketidakmampuan kita dalam mengelola perbedaan tersebut dengan bingkai akhlak yang mulia. Tanpa akhlak, perbedaan hanya akan melahirkan perpecahan yang melemahkan sendi-sendi umat dan menjauhkan kita dari esensi ajaran agama.

Dalam Artikel

Penting bagi kita untuk menyadari bahwa persaudaraan iman melampaui segala batas perbedaan pendapat dalam urusan furu’iyah atau masalah sosial lainnya. Allah SWT telah menegaskan prinsip ini dalam Al-Qur'an agar kita senantiasa menjaga hubungan baik antar sesama mukmin tanpa memandang perbedaan kelompok. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Ayat ini mengingatkan bahwa perdamaian dan ketakwaan adalah kunci agar kita senantiasa mendapatkan rahmat Allah di tengah dinamika perbedaan. Persaudaraan bukanlah tentang keseragaman, melainkan tentang kesatuan hati dalam bingkai ketaatan kepada Sang Pencipta.

Salah satu penyakit hati yang sering muncul dalam perdebatan publik adalah sifat ta'assub atau fanatisme buta. Seseorang yang terjebak dalam ta'assub cenderung menutup mata dari kebenaran yang datang dari pihak lain hanya karena berbeda warna atau golongan. Mereka merasa pendapatnya adalah satu-satunya kebenaran mutlak, sementara yang lain dianggap sesat atau salah. Padahal, para ulama salaf terdahulu telah memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Mereka memegang prinsip bahwa pendapat pribadi mereka benar namun mengandung kemungkinan salah, sementara pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar.

Akhlakul Karimah menuntut kita untuk tetap bersikap santun dan bijaksana meskipun sedang berada dalam posisi yang berseberangan secara pemikiran. Dakwah dan diskusi harus dilakukan dengan cara yang terbaik, bukan dengan cara yang merendahkan martabat lawan bicara. Allah SWT memerintahkan kita dalam Surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Perintah ini menekankan bahwa kebijaksanaan (hikmah) dan tutur kata yang baik adalah instrumen utama dalam berinteraksi. Jika sebuah argumen disampaikan dengan nada merendahkan atau menghina, maka nilai kebenaran di dalamnya akan tertutup oleh buruknya cara penyampaian tersebut.