Fenomena riuhnya ruang publik digital kita hari ini sering kali menampilkan wajah yang kurang elok bagi martabat kemanusiaan. Perbedaan pendapat, yang seharusnya menjadi ladang subur bagi pertumbuhan intelektual, justru kerap berubah menjadi medan pertempuran ego yang dipenuhi caci maki. Sebagai umat yang dibekali tuntunan wahyu, kita perlu merenungkan kembali apakah cara kita berselisih sudah sejalan dengan napas Islam yang mengedepankan kasih sayang. Kebebasan berpendapat tidak boleh menjadi dalih untuk menanggalkan jubah kemuliaan akhlak yang menjadi misi utama diutusnya Rasulullah ke muka bumi.
Islam memandang perbedaan sebagai keniscayaan sejarah dan ketetapan Ilahi yang tidak bisa dihindari. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan bahwa keberagaman adalah instrumen untuk saling mengenal, bukan untuk saling menjatuhkan. Hal ini termaktub dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
Ayat ini memberikan fondasi filosofis bahwa tujuan akhir dari segala perbedaan adalah lita'arafu atau saling mengenal. Dalam konteks diskusi, saling mengenal berarti mencoba memahami perspektif orang lain sebelum memberikan penghakiman. Tanpa pemahaman ini, diskusi hanya akan menjadi monolog yang dipaksakan, di mana masing-masing pihak merasa paling benar dan menutup pintu kebenaran dari arah lain.
Krisis yang kita hadapi saat ini bukanlah kurangnya orang pintar, melainkan kian menipisnya adab dalam menyampaikan kebenaran. Banyak orang merasa memiliki lisensi untuk merendahkan orang lain hanya karena merasa berada di pihak yang benar secara argumen. Padahal, kebenaran yang disampaikan dengan cara yang batil akan kehilangan keberkahannya. Islam mengajarkan bahwa cara berkomunikasi sama pentingnya dengan isi komunikasi itu sendiri. Bahkan kepada penguasa yang zalim sekalipun, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan lemah lembut:
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
Jika kepada sosok seperti Firaun saja kita diperintahkan berbicara lembut, lantas apa pembenaran bagi kita untuk menghujat saudara seiman atau sesama manusia hanya karena perbedaan pilihan politik atau mazhab pemikiran? Akhlakul karimah menuntut kita untuk tetap menjaga lisan dan jempol dari kata-kata yang melukai hati, sebab luka fisik bisa sembuh, namun luka karena lisan sering kali membekas hingga ke liang lahat.
Ketajaman berpikir harus dibarengi dengan kerendahan hati intelektual. Seorang yang berilmu seharusnya menyadari bahwa pengetahuannya hanyalah setetes air di tengah samudra luas. Sikap merasa paling benar (truth claim) yang berlebihan sering kali menutup celah hidayah dan memicu polarisasi yang tajam. Kita perlu meneladani para ulama salaf yang meski berbeda pendapat secara tajam dalam masalah fikih, mereka tetap saling memuji dan mendoakan satu sama lain. Mereka memisahkan antara persoalan ide dengan kehormatan pribadi seseorang.
Di era disrupsi informasi, kita juga ditantang untuk tidak terjebak dalam arus provokasi yang memecah belah. Sering kali perbedaan pendapat diperuncing oleh pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari perpecahan. Di sinilah peran Akhlakul Karimah sebagai penyaring atau filter sosial. Seorang Muslim yang berakhlak tidak akan mudah terprovokasi dan selalu melakukan tabayyun atau klarifikasi sebelum bereaksi. Menjaga persatuan adalah kewajiban yang jauh lebih besar daripada sekadar memenangkan sebuah perdebatan kecil di media sosial.

