Dunia hari ini seakan menjadi panggung perdebatan tanpa henti. Di ruang-ruang digital hingga meja diskusi formal, perbedaan pendapat sering kali bukan lagi menjadi sarana memperkaya khazanah pemikiran, melainkan pintu gerbang menuju perpecahan. Fenomena ini sangat memprihatinkan, mengingat Islam telah memberikan fondasi yang kokoh mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap ketika berhadapan dengan pandangan yang tidak sejalan. Perbedaan adalah keniscayaan dalam penciptaan, namun bagaimana kita menyikapinya adalah ujian bagi kualitas iman dan akhlak kita.
Sejatinya, perbedaan pendapat atau ikhtilaf merupakan fitrah kemanusiaan yang diakui dalam Islam. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa keragaman adalah bagian dari kehendak-Nya agar manusia saling mengenal dan belajar. Hal ini tertuang dalam firman-Nya: وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ yang artinya, Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Ayat ini memberikan pemahaman bahwa keseragaman mutlak bukanlah tujuan, melainkan bagaimana kita mengelola perbedaan tersebut agar tetap berada dalam koridor rahmat.
Namun, yang kita saksikan belakangan ini adalah hilangnya adab di atas ilmu. Banyak individu yang merasa memiliki otoritas kebenaran tunggal sehingga dengan mudah merendahkan, mencaci, bahkan mengafirkan saudara seiman hanya karena perbedaan ijtihad atau pandangan politik. Padahal, dakwah dan diskusi seharusnya dibangun dengan fondasi kelembutan. Allah memerintahkan dalam Al-Qur'an: ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ yang artinya, Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Tanpa hikmah, argumen yang paling benar sekalipun akan kehilangan barakahnya.
Kritik yang beradab adalah kritik yang tidak menyerang personalitas, melainkan membedah substansi pemikiran. Seorang tokoh agama dan pemikir Muslim sejati harus mampu menahan diri dari godaan amarah saat pendapatnya disanggah. Kita perlu meneladani para imam mazhab yang meski berbeda pendapat secara tajam, tetap saling menghormati. Imam Syafi'i pernah berujar bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sementara pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap tawadhu atau rendah hati inilah yang mulai terkikis oleh egoisme intelektual di zaman modern.
Masalah sosial yang muncul akibat ketidakmampuan mengelola perbedaan ini berdampak pada rapuhnya kohesi sosial. Polarisasi di tengah masyarakat sering kali dipicu oleh narasi-narasi provokatif yang dibungkus dengan dalil agama. Di sinilah peran Akhlakul Karimah menjadi krusial sebagai rem darurat. Akhlak bukan sekadar hiasan diri, melainkan esensi dari misi kenabian. Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ yang artinya, Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak. Jika cara kita mempertahankan agama justru merusak akhlak, maka ada yang salah dalam pemahaman keagamaan kita.
Media sosial telah memperparah keadaan dengan algoritma yang menciptakan gema suara yang sama, membuat kita sulit menerima perspektif berbeda. Kita terjebak dalam rasa merasa paling benar sendiri. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk melakukan tabayyun atau verifikasi sebelum bereaksi. Jangan sampai kebencian kita kepada suatu kaum atau kelompok membuat kita berlaku tidak adil. Keadilan dalam berpikir dan berucap adalah manifestasi nyata dari ketakwaan yang sesungguhnya.
Mengakhiri opini ini, saya mengajak kita semua untuk kembali memposisikan adab di atas ilmu. Perbedaan pendapat tidak boleh menjadi alasan untuk memutus tali silaturahmi atau merusak ukhuwah Islamiyah. Mari kita jadikan ruang diskusi sebagai ladang amal jariyah dengan menyampaikan kebenaran secara santun. Kekuatan Islam tidak terletak pada keseragaman pemikiran, melainkan pada kesatuan hati dalam bingkai akhlak yang mulia. Dengan akhlak, perbedaan akan menjadi pelangi yang memperindah peradaban, bukan badai yang menghancurkan persaudaraan.
Sebagai penutup, marilah kita ingat bahwa pada akhirnya, bukan siapa yang paling menang dalam debat yang akan mendapat kemuliaan di sisi Allah, melainkan siapa yang paling baik akhlaknya dalam berinteraksi dengan sesama. Mari kita jaga lisan dan jemari kita agar tetap menjadi wasilah hidayah, bukan sumber fitnah. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk tetap istiqamah dalam jalan kebenaran yang penuh dengan kasih sayang dan kelembutan.

