Keberagaman pemikiran adalah sunnatullah yang tidak mungkin kita hindari dalam lintasan sejarah manusia. Namun, realitas sosial hari ini menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan, di mana perbedaan pendapat sering kali menjadi pemantik api permusuhan, caci maki, hingga pembunuhan karakter. Di ruang publik maupun media sosial, kita menyaksikan bagaimana argumen tidak lagi diadu dengan data dan logika yang sehat, melainkan dengan sentimen kebencian yang meruntuhkan martabat kemanusiaan. Fenomena ini menandakan adanya krisis adab yang akut di tengah masyarakat kita yang mengaku religius.

Islam memandang perbedaan sebagai ruang untuk saling memperkaya, bukan alasan untuk saling membinasakan. Masalah utamanya sering kali bukan terletak pada substansi perbedaan itu sendiri, melainkan pada hilangnya kendali diri dan rasa hormat terhadap sesama. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan peringatan keras dalam Al-Qur'an agar kita tidak memandang rendah orang lain hanya karena ketidaksepahaman. Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:

Dalam Artikel

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok itu lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Kutipan ini menegaskan bahwa integritas moral seorang Muslim diuji saat ia berhadapan dengan sesuatu yang tidak sejalan dengan pemikirannya.

Jika kita menengok sejarah keemasan intelektual Islam, para ulama salaf telah memberikan teladan yang luar biasa dalam mengelola ikhtilaf. Imam Syafi'i, misalnya, pernah berujar bahwa pendapatnya benar namun mengandung kemungkinan salah, sementara pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar. Sikap tawadhu semacam inilah yang hilang dari peredaran diskusi kita hari ini. Saat ini, banyak orang merasa memiliki otoritas kebenaran mutlak sehingga dengan mudahnya menyesatkan atau mengafirkan mereka yang berbeda pandangan.

Penyakit hati yang paling berbahaya dalam perbedaan pendapat adalah kesombongan intelektual. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mendefinisikan kesombongan bukan sekadar dari pakaian yang indah, melainkan dari sikap mental terhadap kebenaran dan manusia lainnya. Beliau bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Hadis riwayat Muslim ini menjadi cermin bagi kita semua. Ketika kita merasa lebih mulia hanya karena merasa paling benar dalam berpendapat, saat itulah kita sebenarnya sedang terjerembab dalam jurang kesombongan yang menghancurkan nilai-nilai akhlakul karimah.

Di era digital, tantangan ini semakin berat karena sekat-sekat komunikasi menjadi sangat tipis. Jempol sering kali bergerak lebih cepat daripada akal sehat, menghasilkan komentar-komentar tajam yang melukai hati. Kritik yang seharusnya bersifat membangun justru berubah menjadi fitnah dan provokasi. Padahal, Islam memerintahkan kita untuk senantiasa memilih kata-kata terbaik dalam berinteraksi, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 53: